Di atas trotoar sebuah jembatan kecil, seorang anak muda berjaket jeans lusuh tampak duduk termenung dengan sebuah tas yang cukup besar di punggungnya. Sesekali ia terbangun dari lamunannya dan mengedarkan pandangan ke segala arah seperti hendak mencari seseorang. Dan ia tampak mulai gelisah, sebelum akhirnya melihatku di kejauhan berlari dengan terengah-engah.
“Maaf membuatmu lama menunggu, Gil, Ayah baru mengizinkanku menutup warung pukul lima” ujarku dengan nafas tersengal.
“Tidak apa-apa, kawan” balasnya dengan senyum yang sangat ramah.
“Bis terakhir akan lewat pukul berapa?” Tanyaku lagi..
“Mungkin pukul setengah enam, sebentar lagi” jawabnya lagi dengan senyuman yang ramah.
“Kau benar-benar sudah yakin akan tetap berangkat sekarang? Tidak mau tunggu sampai ujian akhir dan ijazah SMA mu kau peroleh?” aku bertanya kembali dengan nada menyesal.
Ia menjawab, tapi kali ini cukup lama. “Tidak, aku sudah memikirkannya matang-matang. Bapak sudah benar-benar tak mampu membiayai sekolahku lagi. Kelima adikku sudah mulai besar-besar, dan mereka juga butuh pendidikan seperti aku dulu. Akan sangat sulit bagi seorang buruh tani untuk menyekolahkan semua anaknya sampai tamat SMA. Biarlah aku yang mengalah, karena memang harus aku yang mengalah.” ujarnya sambil menatap langit di arah matahari mulai memerah.
Anak muda itu masih saja selalu tersenyum, meskipun kerasnya hidup kerap menghancurkan kebahagiaan dan semangat masa mudanya. Berkali-kali ia sebenarnya sudah harus putus sekolah, bahkan dari SD, tapi berkali-kali pula ia masih mampu bertahan.
“Aku ingin selamanya menjadi anak kecil, Gil. Selamanya menjadi anak SD, yang sering berenang di sungai atau memanjat pohon asam di belakang sekolah. Tidak pernah memikirkan kerasnya hidup, apalagi mencoba berdamai dengannya.” ujarku dengan nada datar.
Agil hanya tersenyum. “Seandainya saja bisa..” jawabnya.
“Tapi kenyataannya inilah kita sekarang, dua orang anak muda yang sudah beranjak dewasa, kau dan aku. Tidak bisa tidak. Hidup sudah menunggu di depan sana, menunggu untuk dilawan atau diajak berdamai. Dan kali ini aku harus mengajaknya berdamai” ia meneruskan kata-katanya sambil melihat ke sungai kecil di bawah jembatan.
Agil adalah sahabatku sejak kecil. Sahabat yang selalu bersamaku mewarnai indahnya masa-masa kecil di kota kecil ini. Kami selalu satu sekolah, dari SD sampai SMA, hingga akhirnya ia harus pergi dan memilih untuk tidak menyelesaikan SMA-nya karena beban keluarga yang tidak tertanggungkan lagi. Sebulan lalu, abangnya yang sulung, yang bekerja sebagai buruh perkebunan kelapa sawit di sebuah negri yang sangat jauh dari kotaku ini mengiriminya surat. Dalam surat itu, abangnya mengajak Agil ikut bekerja di tempat ia bekerja, untuk meringankan beban bapak mereka yang sudah mulai benar-benar kesulitan menanggung beban tujuh orang dalam keluarga, terlebih karena musim kemarau berkepanjangan kerap mengacaukan masa panen sawah-sawah yang mulai menyempit di kota kecil ini. Dan waktu satu bulan sudah cukup bagi Agil untuk memikirkan matang-matang apa yang harus ia lakukan.
“Ini untukmu, Gil.” Ujarku sambil menyerahkan dua buah buku yang kubawa. Dan ia dengan senyum sumringah menerima buku itu. Buku yang satu adalah buku yang berisi kumpulan tulisan dan pemikiran Marx dan Engels, dan buku yang kedua adalah kumpulan cerpen Sobron Aidit.
Buku-buku itu kuberikan padanya karena kehidupannya nanti di negri yang jauh itu pasti akan sangat keras dan rawan mengalami penindasan. Pekerjaan sebagai buruh kasar di manapun jelas bukan pekerjaan yang menyenangkan, di belahan bumi manapun.
“Buku-buku itu kuberikan untukmu, agar kelak jika sudah berada di sana, kau tahu bila kau sedang diinjak, kau ditindas, dan hak-hakmu dirampas, sehingga kelak kau berani melawan dan berontak atas nama keadilan. Banyak orang tidak melawan bukan karena tidak berani, tapi justru karena tidak tahu bahwa mereka sedang diinjak-injak.”
Aku menghela nafas sejenak dan meneruskan kata-kataku. “Aku tak mengharapkanmu jadi pahlawan bagi orang lain, yang aku ingin kau cukup jadi pahlawan bagi dirimu sendiri.”
Agil mengangguk.
“Ingat, ‘baca dan lawan!’, jangan lari seperti Forrest Gump” kupukul bahunya pelan.
Agil mengangguk sekali lagi tanda paham.
“Oh iya ini satu lagi” aku mengeluarkan sebuah buku tentang akhlak Rasulullah dari tas kecilku. “Ini untukmu juga”
“Belajar Marxisme juga harus disertai dengan moral yang kuat, dan banyak orang justru melupakan hal itu” tambahku. “Bacalah buku-buku itu olehmu”
Agil kembali mengangguk paham sambil memasukkan buku-buku itu ke dalam tas besarnya.
Sebuah plastik berisi uang kertas dan koin berbagai pecahan yang berjumlah seratus ribu
aku masukkan paksa ke dalam tasnya. “Ini hasil kerjaku menjual cengkeh sebulan ini, jangan kau tolak, dan pergunakanlah sebaik-baiknya.” Ujarku.
Agil terdiam menahan haru, sampai sesaat kemudian suara bis kencang menderu dari kejauhan terdengar mendekat.
“Terima kasih banyak, sahabat..” ujar Agil padaku.
Aku balas menjawab, “ Berjanjilah padaku bahwa kau akan baik-baik saja, kembali ke tempat ini dan menemuiku di jembatan kecil ini. Berjanjilah padaku bahwa beratnya hidup juga tidak akan membunuh mimpimu.”
“Untuk jadi Steinbeck?” Tanyanya.
“Ya, untuk jadi Steinbeck berikutnya” jawabku.
“Memang ada saat kita harus harus berdamai dengan hidup, tapi tetap berjuang melawannya untuk menyalakan mimpi-mimpi yang kian meredup” jawab Agil sambil tersenyum.
Aku memeluk anak muda itu erat sekali. Tak terasa waktu begitu cepat mengubah kami yang rasanya baru kemarin masih bocah kini menjadi dua anak muda yang beranjak dewasa. Tak terasa pula aku mulai menitikkan air mata.
Dan bis kumal yang sudah terdengar derunya dari kejauhan tadi mulai menampakkan batang hidungnya di tikungan jalan, lima ratus meter dari jembatan, hingga akhirnya berhenti dan membawa sahabat masa kecilku itu.
Agil tersenyum dari jendela sambil melambaikan tangan tanda perpisahan. Aku balas tersenyum dan lambaikan tangan padanya sambil berusaha merekam ingatan akan perpisahan ini untuk menagih janjinya bertemu kembali di jembatan ini, meskipun kelak kami tidak muda lagi. Kami berdua telah berjanji untuk tetap bertahan hidup, sampai tiba waktu yang tak ditentukan untuk bertemu kembali di tempat ini.
Suara adzan maghrib sayup-sayup berkumandang di seluruh penjuru kota kecil ini. Tapi disini aku masih berdiri, terpaku, menatap bis yang kian lama kian menjauh itu. Bis itu bergerak cepat ke arah matahari yang kian berwarna merah dan mulai terbenam, seperti hendak menabraknya, mengantar Agil untuk menabrak hidup dan kemudian mencoba berdamai dengannya.
Jatinangor, 17 Februari 2010
untuk kakak saya, Adhi Permana Yudha, dan sahabat-sahabat masa kecil di berbagai kota..
Senin, 22 Februari 2010
Kamis, 04 Februari 2010
Sesuatu yang Ditulis tentang ‘Rumah’
Rumah kami sederhana, kawan. Ukurannya tidak besar, karena hanya ada satu ruang tamu, dua kamar tidur, satu kamar mandi dan dapur. Atapnya terbuat dari seng. Jika siang, panasnya luar biasa menyengat. Jika malam, dingin kuat membekap. Lantai rumah kami tidak terbuat dari keramik. Bila musim hujan tiba, kadang air merendam sampai ke lutut orang dewasa karena sungai yang ada di dekat tikungan sana meluap hebat.
Di rumah kami tak banyak barang mewah. Yang mewah itu mungkin hanya sebuah televisi berukuran 14 inchi yang warnanya sudah mulai kabur, karena dibeli bekas oleh Ayah. Sisanya hanya kursi-kursi dan meja, serta satu buah kompor yang ada di dapur.Rumah kami letaknya di samping sebuah sekolah dasar yang menghadap ke sebuah jalan kecil. Bila pagi datang, terdengar suara keras anak-anak sekolah menghafalkan perkalian. Bila siang hingga sore menjelang, lalu lalang gerobak kuda yang mengangkut jagung hasil perkebunan warga kampung di balik gunung. Beberapa meter di belakang rumah kami ada kandang kuda milik tetangga. Terkadang aku main kesana, melihat tingkah polah kuda-kuda dan anaknya, sebuah pemandangan yang tak pernah kulihat di tempat tinggal kami sebelumnya. Di samping rumah kami ada pohon kapuk. Jika angin bertiup agak kencang isi buahnya akan menghambur seperti salju kumal yang turun bergumpal dari langit. Ibu sering memungut kapuk-kapuk itu untuk dimasukkan ke dalam bantal dan menjahitnya di belakang rumah.
Rumah kami sederhana kawan, tapi aku tenang jika ada di dalamnya. Jika jenuh di sekolah karena kesal dengan teman-teman baru atau hampir ditampar guru karena lupa memasukkan baju, aku teringat rumah. Dan jika lonceng tanda pulang telah dibunyikan, aku segera lari menghambur keluar pagar sekolah menuju rumah. Menemui Ibu yang sedang mencuci, Kakak yang ternyata sudah pulang sekolah dari tadi, dan menyambut Ayah yang tampak letih sepulang bekerja.
Rumah kami memang sederhana, kawan, tapi aku senang ada di dalamnya. Menonton televisi yang hanya menyiarkan TVRI pun tak pernah aku sesali asalkan di rumah. Di luar kadang mengesalkan, tapi disini selalu menyenangkan.
***
Kini kami telah pindah rumah, kawan. Tapi perasaan cinta dan rinduku pada sesuatu bernama rumah tak pernah berubah, masih selalu sama. Tak peduli dimana letak dan bagaimana bentuk rumah kami kini. Hingga akhirnya aku sadar, ternyata bukan rumah itu yang aku cintai dan rindukan selama ini. Bukan rumah itu, tapi ‘rumah’ itulah. Suasana rumah buah karya para penghuninya yang selalu berusaha saling melengkapi di kala susah atau senang, di kala punya atau tak punya, saling membantu berdiri di kala salah seorang dari kami terjatuh dan kemudian memberi motivasi untuk tetap berlari. Suasana indah karya orang-orang di rumah yang selalu menghadirkan tawa dan canda itulah ternyata yang selalu aku rindukan selama ini. Suasana indah hasil karya orang-orang yang membuatku tak pernah merasa berjalan sendiri, karena kami saling memiliki.
“What can money buy, my friends? House, but not home..”
Jatinangor, 31 Januari 2010
Jumat, 22 Januari 2010
Bukan Salah Obama
Sabtu lalu saat mampir ke sebuah toko buku di Bandung, tak sengaja saya melihat sebuah buku yang berisi pidato-pidato pemimpin ternama dunia. Cukup menarik, tapi saya punya waktu untuk baca halaman belakangnya saja.
Winston Churchill: bla..bla..bla..(saya tak ingat apa yang ia katakan)
Mikhail Gorbachev: bla..bla..bla..(saya tak ingat juga apa yang ia katakan)
Dan akhirnya sampailah saya pada penggalan pidato Barrack Obama, yang isinya kurang lebih seperti ini:
Saya terlahir dari seorang pria kulit hitam Kenya dan wanita kulit putih Amerika, dibesarkan oleh kakek dan nenek kulit putih Amerika. Saya pernah mengenyam pendidikan di sekolah terbaik di Amerika dan bahkan pernah tinggal di salah satu negara miskin di dunia..
Saya berpikir sejenak, apakah Obama pernah tinggal di Kenya? Ternyata tidak. Obama pernah tinggal di Hawaii, dan Hawaii adalah Amerika. Pilihan terakhir jatuh ke Indonesia, negara yang kita cintai ini, kawan. Oh tidak! Kesal campur tidak terima saya pertama kali memikirkannya. Ternyata seorang Barrack Obama, seseorang yang banyak orang Indonesia banggakan, gadang-gadang dan dukung habis-habisan menjadi pemimpin sebuah negara ‘satpam’ dunia karena pernah tinggal dan sekolah di Indonesia, tega sekali mengatakan bahwa negara kita adalah negara miskin. Saya kesal sekali pada Anda, Obama..
***
Hari sudah sore, saya harus pulang. Lama sekali menunggu sebuah alat transportasi publik milik pemerintah ini. Para calon penumpang termasuk saya sudah berjubel di pangkalan, tak sabar naik transportasi murah tapi tidak meriah ini. Dan ketika bis tua dengan asap hitam knalpot mengepul tampak tiba dari kejauhan, para calon penumpang berhamburan mengejar bis tersebut untuk berebut tempat duduk.
Keadaan di bis padatnya bukan main, dari depan sampai belakang bis ada penumpang yang berdiri. Bahkan ada beberapa penumpang yang duduk tepat membelakangi kaca depan bis, sampai-sampai Pak sopir agak kesulitan melihat kaca spion karena terhalang penumpang. Seorang anak yang tak kuat berdiri dan tampak mulai lemas duduk di lantai bis, dekat kaki saya. Penumpang sudah luar biasa penuh, tapi Pak sopir tetap mengangkut penumpang, sampai akhirnya ada yang harus berdiri di pintu, dan kena angin sepanjang perjalanan. Keadaan di dalam bis sangat tidak nyaman, agak sulit bernafas karena penumpang penuh sesak. “Tak ubahnya sekeranjang ikan-ikan teri”, lebih tepatnya mungkin begitu kata band punk Marjinal untuk menggambarkan keadaan penumpang dalam bis. Ya, memang inilah transportasi publik murah yang baru mampu diwujudkan pemerintah saat ini. Murah memang, tapi belum meriah. Saya jadi ingat, seorang teman pernah bilang, “kalau kamu mau menilai suatu negara sudah bisa dikatakan maju atau belum, lihat saja transportasi publiknya..”. Saat berbincang itu seketika saya langsung teringat Jepang, Singapura, negara-negara Eropa barat, dan negara-negara lain yang transportasi publiknya sudah sangat canggih. Ternyata memang tidak salah kalau hal itu dijadikan indikator. Sejenak saya memperhatikan bis yang nafasnya tersengal-sengal ini dan langsung menyimpulkan, “berarti bis ini kurang lebih juga mencerminkan negara kita ya, ada di strata yang mana.” Ah sudahlah..
Bis sudah berjalan cukup jauh, dan berhenti di sebuah lampu merah. Di lampu merah yang padat kendaraan itu banyak pengemis dan pengamen yang sebagian besar terdiri dari anak-anak, ada juga yang membersihkan kaca mobil dengan kemoceng. Saya berpikir, ini baru di satu lampu merah di satu kota, belum di lampu-lampu merah lain, dan belum termasuk kota-kota besar lain di negri ini. Ternyata jumlah mereka memang sangat banyak, dan ini realita..
Bis sudah berjalan meninggalkan lampu merah tersebut, dan hujan yang cukup deras mulai turun sepanjang jalan. Bis melewati sebuah pasar yang di depannya sampah berserakan, dan karena air hujan yang menggenang, sampah-sampah itu ikut tergenang hampir ke jalan. Sangat tidak indah. Beberapa meter dari pasar itu jalanan juga agak macet karena beberapa mobil angkutan parkir sembarangan untuk menunggu penumpang. Kumuh dan semrawut..
Sangat terasa, akhirnya bis sampai di tempat tujuan. Badan yang sudah letih disambut oleh puluhan tukang ojek yang menawarkan tumpangan. Jumlahnya jauh lebih banyak daripada jumlah penumpang yang hendak menggunakan jasa transportasi itu sendiri. Ironis memang..
Saya berjalan pulang menuju kosan, dan teringat kembali dengan potongan pidato Obama yang membuat saya kesal tadi. Saya berpikir apakah Obama salah, mengatakan negara kita ini negara miskin. Selama ini saya menganggap bahwa negara kita adalah negara berkembang, seperti yang didengung-dengungkan, bukan negara miskin. Tapi pengalaman yang cukup singkat selama perjalanan di bis tadi telah mengikis habis batasan kriteria negara berkembang dan negara miskin dalam pikiran saya. Istilah ‘negara berkembang’ mungkin memang hanya penghalusan dari ‘negara miskin’, atau kalaupun memang ada bedanya, mungkin hanya setipis hitung-hitungan pertumbuhan ekonomi dengan sempoa belaka. Anda boleh tidak terima, tapi bagi saya Obama memang tidak asal bicara..
Serang, 22 Januari 2010
Winston Churchill: bla..bla..bla..(saya tak ingat apa yang ia katakan)
Mikhail Gorbachev: bla..bla..bla..(saya tak ingat juga apa yang ia katakan)
Dan akhirnya sampailah saya pada penggalan pidato Barrack Obama, yang isinya kurang lebih seperti ini:
Saya terlahir dari seorang pria kulit hitam Kenya dan wanita kulit putih Amerika, dibesarkan oleh kakek dan nenek kulit putih Amerika. Saya pernah mengenyam pendidikan di sekolah terbaik di Amerika dan bahkan pernah tinggal di salah satu negara miskin di dunia..
Saya berpikir sejenak, apakah Obama pernah tinggal di Kenya? Ternyata tidak. Obama pernah tinggal di Hawaii, dan Hawaii adalah Amerika. Pilihan terakhir jatuh ke Indonesia, negara yang kita cintai ini, kawan. Oh tidak! Kesal campur tidak terima saya pertama kali memikirkannya. Ternyata seorang Barrack Obama, seseorang yang banyak orang Indonesia banggakan, gadang-gadang dan dukung habis-habisan menjadi pemimpin sebuah negara ‘satpam’ dunia karena pernah tinggal dan sekolah di Indonesia, tega sekali mengatakan bahwa negara kita adalah negara miskin. Saya kesal sekali pada Anda, Obama..
***
Hari sudah sore, saya harus pulang. Lama sekali menunggu sebuah alat transportasi publik milik pemerintah ini. Para calon penumpang termasuk saya sudah berjubel di pangkalan, tak sabar naik transportasi murah tapi tidak meriah ini. Dan ketika bis tua dengan asap hitam knalpot mengepul tampak tiba dari kejauhan, para calon penumpang berhamburan mengejar bis tersebut untuk berebut tempat duduk.
Keadaan di bis padatnya bukan main, dari depan sampai belakang bis ada penumpang yang berdiri. Bahkan ada beberapa penumpang yang duduk tepat membelakangi kaca depan bis, sampai-sampai Pak sopir agak kesulitan melihat kaca spion karena terhalang penumpang. Seorang anak yang tak kuat berdiri dan tampak mulai lemas duduk di lantai bis, dekat kaki saya. Penumpang sudah luar biasa penuh, tapi Pak sopir tetap mengangkut penumpang, sampai akhirnya ada yang harus berdiri di pintu, dan kena angin sepanjang perjalanan. Keadaan di dalam bis sangat tidak nyaman, agak sulit bernafas karena penumpang penuh sesak. “Tak ubahnya sekeranjang ikan-ikan teri”, lebih tepatnya mungkin begitu kata band punk Marjinal untuk menggambarkan keadaan penumpang dalam bis. Ya, memang inilah transportasi publik murah yang baru mampu diwujudkan pemerintah saat ini. Murah memang, tapi belum meriah. Saya jadi ingat, seorang teman pernah bilang, “kalau kamu mau menilai suatu negara sudah bisa dikatakan maju atau belum, lihat saja transportasi publiknya..”. Saat berbincang itu seketika saya langsung teringat Jepang, Singapura, negara-negara Eropa barat, dan negara-negara lain yang transportasi publiknya sudah sangat canggih. Ternyata memang tidak salah kalau hal itu dijadikan indikator. Sejenak saya memperhatikan bis yang nafasnya tersengal-sengal ini dan langsung menyimpulkan, “berarti bis ini kurang lebih juga mencerminkan negara kita ya, ada di strata yang mana.” Ah sudahlah..
Bis sudah berjalan cukup jauh, dan berhenti di sebuah lampu merah. Di lampu merah yang padat kendaraan itu banyak pengemis dan pengamen yang sebagian besar terdiri dari anak-anak, ada juga yang membersihkan kaca mobil dengan kemoceng. Saya berpikir, ini baru di satu lampu merah di satu kota, belum di lampu-lampu merah lain, dan belum termasuk kota-kota besar lain di negri ini. Ternyata jumlah mereka memang sangat banyak, dan ini realita..
Bis sudah berjalan meninggalkan lampu merah tersebut, dan hujan yang cukup deras mulai turun sepanjang jalan. Bis melewati sebuah pasar yang di depannya sampah berserakan, dan karena air hujan yang menggenang, sampah-sampah itu ikut tergenang hampir ke jalan. Sangat tidak indah. Beberapa meter dari pasar itu jalanan juga agak macet karena beberapa mobil angkutan parkir sembarangan untuk menunggu penumpang. Kumuh dan semrawut..
Sangat terasa, akhirnya bis sampai di tempat tujuan. Badan yang sudah letih disambut oleh puluhan tukang ojek yang menawarkan tumpangan. Jumlahnya jauh lebih banyak daripada jumlah penumpang yang hendak menggunakan jasa transportasi itu sendiri. Ironis memang..
Saya berjalan pulang menuju kosan, dan teringat kembali dengan potongan pidato Obama yang membuat saya kesal tadi. Saya berpikir apakah Obama salah, mengatakan negara kita ini negara miskin. Selama ini saya menganggap bahwa negara kita adalah negara berkembang, seperti yang didengung-dengungkan, bukan negara miskin. Tapi pengalaman yang cukup singkat selama perjalanan di bis tadi telah mengikis habis batasan kriteria negara berkembang dan negara miskin dalam pikiran saya. Istilah ‘negara berkembang’ mungkin memang hanya penghalusan dari ‘negara miskin’, atau kalaupun memang ada bedanya, mungkin hanya setipis hitung-hitungan pertumbuhan ekonomi dengan sempoa belaka. Anda boleh tidak terima, tapi bagi saya Obama memang tidak asal bicara..
Serang, 22 Januari 2010
Kamis, 14 Januari 2010
mengawali 2010..
Tak perlu terompet, tak perlu kembang api, tak perlu ke pantai atau gunung, tak perlu begadang sampai tengah malam..
Yang anda perlukan hanyalah momentum..
SELAMAT DATANG DI 2010!
Yang anda perlukan hanyalah momentum..
SELAMAT DATANG DI 2010!
Minggu, 22 November 2009
Kecuali cinta..
di Malang..
Lelaki itu tampak sedang melamun di sebuah tempat berukuran sempit yang dipenuhi buku-buku dan anak kecil yang sedang membaca. Pikirannya tampak kalut, tergambar dari raut wajahnya. Berita dari seorang teman di Surabaya kemarin mengusik pikirannya. Sejenak dilihatnya anak-anak yang sedang membaca, buku-buku yang tersusun rapi, dan ruangan sempit itu. Tidak rela Ia menutup taman bacaan yang sudah diperjuangkannya selama tujuh tahun itu. Ia sudah pernah diusir oleh ayah ibunya, menjual televisi dan apapun yang dimilikinya, bekerja serabutan menjaga stand buku dari satu pameran ke pameran lain hanya untuk mempertahankan taman bacaan itu. Dan kini pantang terasa olehnya untuk menyerah mempertahankan taman bacaan yang sudah mempunyai anggota ribuan anak itu, hanya karena tak ada lagi uang untuk membayar sewa tempat. Tak ada uang yang diperolehnya, karena memang tak pernah ada sepeser pun uang yang Ia pungut dari anak-anak. Ia menarik nafas dalam, membulatkan tekadnya. Besok Ia akan menghubungi temannya di Surabaya itu, dan mengatakan bahwa Ia siap menjual ginjalnya, demi sebuah tempat yang bagi sebagian orang dianggap tak penting.
di Gunung Kidul..
Ini sudah yang kali kelima belas wanita itu jatuh dari sepeda motornya sejak sebulan ini. Lima belas kali terjatuh, dan lima belas kali terluka tentunya. Jalan yang sangat buruk membuatnya sangat sulit mengendarai motornya. Namun kali ini sulit sekali ia membangunkan motornya, makan waktu cukup lama. Ia merasa lelah sekali dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Seketika teringat olehnya kenangan sebulan lalu, sebelum motor itu dibelinya, ketika ia harus menumpang mobil truk setiap hari. Truk apa saja ia tumpangi, truk sayuran bahkan truk pasir sekalipun.
Tapi tidak lama, Ia berhenti bernostalgia ketika dilihatnya jam tangan sudah menunjukkan pukul 06.45. Ia bangun segera dari duduknya, sambil tersenyum Ia meraih sepeda motornya, membangunkan, dan mengendarainya cukup cepat hingga sampai di sebuah tempat yang hendak ditujunya tersebut tepat pukul tujuh. Di sana anak-anak yang
hanya berjumlah enam orang sudah menunggu dan siap menerima pelajaran darinya. Ya, tempat itu adalah sebuah sekolah dasar di sebuah desa yang sangat terpencil. Anak-anak tersebut tampak sangat gembira ketika wanita itu memasuki ruang kelas yang tak tampak seperti ruang kelas. Anak-anak sangat gembira, tapi wanita itu jauh lebih gembira ketika menyaksikan senyuman terkembang dari wajah mereka.
di Jakarta..
Hari masih menunjukkan pukul enam pagi, ketika seorang pemuda berambut gondrong, tato dan anting di telinga kanan-kiri keluar dari kontrakannya yang kumuh. Ia membawa sebuah gitar yang penuh dengan stiker. Hari ini Ia sengaja berangkat lebih pagi untuk ngamen, agar bisa dapat uang lebih banyak. Semakin pagi - semakin sedikit saingan - semakin banyak dapat tempat untuk ngamen - semakin banyak dapat uang, begitu pikirnya. Namun ketika sampai di ujung gang, di pinggir jalan, langkahnya terhenti. Ia terdiam melihat tiga orang bocah yang sedang membawa okulele sedang berlari berebutan naik metromini. Mereka berebutan untuk ngamen, seorang bocah bahkan hampir jatuh karena saling dorong. Tak lama pemandangan itu dilihatnya, metromini dan tiga orang bocah itu sudah berlalu dari pandangannya, tapi Ia masih diam. Beberapa menit kemudian Ia memutar badan, kembali pulang menuju arah kontrakannya. Seketika itu juga Ia memutuskan berhenti jadi seorang pengamen. Ia tidak tahu akan bekerja apa besok, tapi yang pasti Ia merasa jauh lebih kuat dan mampu mencari pekerjaan lain, ketimbang memilih bersaing dengan bocah-bocah yang tidak punya kekuatan, kesempatan, bahkan pilihan itu.
di sebuah bis Damri menuju Bandung
Sore itu penumpang dalam bis cukup padat, tak ada tempat duduk yang kosong. Di tengah perjalanan seorang wanita tua naik ke bis dari pintu belakang. Karena tak ada tempat kosong, Ia harus berdiri. Seorang mahasiswa yang duduk di depan berdiri hendak memberikan kursinya pada wanita itu, tapi terlambat karena seorang penumpang lain telah terlebih dahulu memberikan kursinya pada wanita tersebut. Mahasiswa itu duduk kembali, wajahnya tampak kecewa dan sedih. Kawannnya yang duduk di sebelahnya pun bertanya, mengapa wajahnya berubah seketika menjadi sedih.
Dengan wajah yang masih sedih dan kecewa mahasiswa itu menjawab,
“Saya tak punya apa-apa yang bisa saya korbankan untuk orang-orang seperti mereka, kawan..Tak ada harta, tak pula tenaga. Saya tidak pernah turun ke jalan ketika hak-hak mereka dilanggar. Saya tidak berada di sana, ketika rekan-rekan kita ditembak mati saat memperjuangkan hak orang-orang seperti mereka. Menghentikan sebarisan tank selama lebih dari setengah jam seperti yang dilakukan reka-rekan kita di lapangan Tiananmen? Jelas saya tak mampu. Sekarang setidaknya saya punya kursi yang bisa saya berikan. Inilah lahan dan kesempatan pengorbanan yang tampak kecil, tapi setidaknya besar artinya bagi saya, kawan.. Namun sayang, kini kesempatan itu pun telah hilang seketika. Kawan mungkin tak mengerti. Tapi inilah cara saya, jalan bagi saya, kawan.. Latar belakang kita semua berbeda, kemampuan kita juga tentu berbeda. Lahan pengorbanan kita berbeda, dan cara kita berkorban untuk sesama pun kadang tidak sama..”
Bis terus melaju, dan akhirnya sampai di pangkalannya, di Bandung. Ketika dua orang mahasiswa itu hendak turun dari bis, kawan mahasiswa yang bersedih itu bicara padanya sambil tersenyum dan menepuk pundaknya,
“Saya paham sekarang apa yang kawan sedihkan..”
“Biar, biarlah kita semua berbeda dalam segala hal, kawan.. kecuali cinta, dan rasa yang utuh ketika terlahir sebagai manusia..”
Jatinangor, 22 November 2009
Terima kasih pada Soe Hok Gie dan Andy F. Noya atas inspirasi yang diberikan dalam tulisan ini..
Lelaki itu tampak sedang melamun di sebuah tempat berukuran sempit yang dipenuhi buku-buku dan anak kecil yang sedang membaca. Pikirannya tampak kalut, tergambar dari raut wajahnya. Berita dari seorang teman di Surabaya kemarin mengusik pikirannya. Sejenak dilihatnya anak-anak yang sedang membaca, buku-buku yang tersusun rapi, dan ruangan sempit itu. Tidak rela Ia menutup taman bacaan yang sudah diperjuangkannya selama tujuh tahun itu. Ia sudah pernah diusir oleh ayah ibunya, menjual televisi dan apapun yang dimilikinya, bekerja serabutan menjaga stand buku dari satu pameran ke pameran lain hanya untuk mempertahankan taman bacaan itu. Dan kini pantang terasa olehnya untuk menyerah mempertahankan taman bacaan yang sudah mempunyai anggota ribuan anak itu, hanya karena tak ada lagi uang untuk membayar sewa tempat. Tak ada uang yang diperolehnya, karena memang tak pernah ada sepeser pun uang yang Ia pungut dari anak-anak. Ia menarik nafas dalam, membulatkan tekadnya. Besok Ia akan menghubungi temannya di Surabaya itu, dan mengatakan bahwa Ia siap menjual ginjalnya, demi sebuah tempat yang bagi sebagian orang dianggap tak penting.
di Gunung Kidul..
Ini sudah yang kali kelima belas wanita itu jatuh dari sepeda motornya sejak sebulan ini. Lima belas kali terjatuh, dan lima belas kali terluka tentunya. Jalan yang sangat buruk membuatnya sangat sulit mengendarai motornya. Namun kali ini sulit sekali ia membangunkan motornya, makan waktu cukup lama. Ia merasa lelah sekali dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Seketika teringat olehnya kenangan sebulan lalu, sebelum motor itu dibelinya, ketika ia harus menumpang mobil truk setiap hari. Truk apa saja ia tumpangi, truk sayuran bahkan truk pasir sekalipun.
Tapi tidak lama, Ia berhenti bernostalgia ketika dilihatnya jam tangan sudah menunjukkan pukul 06.45. Ia bangun segera dari duduknya, sambil tersenyum Ia meraih sepeda motornya, membangunkan, dan mengendarainya cukup cepat hingga sampai di sebuah tempat yang hendak ditujunya tersebut tepat pukul tujuh. Di sana anak-anak yang
hanya berjumlah enam orang sudah menunggu dan siap menerima pelajaran darinya. Ya, tempat itu adalah sebuah sekolah dasar di sebuah desa yang sangat terpencil. Anak-anak tersebut tampak sangat gembira ketika wanita itu memasuki ruang kelas yang tak tampak seperti ruang kelas. Anak-anak sangat gembira, tapi wanita itu jauh lebih gembira ketika menyaksikan senyuman terkembang dari wajah mereka.
di Jakarta..
Hari masih menunjukkan pukul enam pagi, ketika seorang pemuda berambut gondrong, tato dan anting di telinga kanan-kiri keluar dari kontrakannya yang kumuh. Ia membawa sebuah gitar yang penuh dengan stiker. Hari ini Ia sengaja berangkat lebih pagi untuk ngamen, agar bisa dapat uang lebih banyak. Semakin pagi - semakin sedikit saingan - semakin banyak dapat tempat untuk ngamen - semakin banyak dapat uang, begitu pikirnya. Namun ketika sampai di ujung gang, di pinggir jalan, langkahnya terhenti. Ia terdiam melihat tiga orang bocah yang sedang membawa okulele sedang berlari berebutan naik metromini. Mereka berebutan untuk ngamen, seorang bocah bahkan hampir jatuh karena saling dorong. Tak lama pemandangan itu dilihatnya, metromini dan tiga orang bocah itu sudah berlalu dari pandangannya, tapi Ia masih diam. Beberapa menit kemudian Ia memutar badan, kembali pulang menuju arah kontrakannya. Seketika itu juga Ia memutuskan berhenti jadi seorang pengamen. Ia tidak tahu akan bekerja apa besok, tapi yang pasti Ia merasa jauh lebih kuat dan mampu mencari pekerjaan lain, ketimbang memilih bersaing dengan bocah-bocah yang tidak punya kekuatan, kesempatan, bahkan pilihan itu.
di sebuah bis Damri menuju Bandung
Sore itu penumpang dalam bis cukup padat, tak ada tempat duduk yang kosong. Di tengah perjalanan seorang wanita tua naik ke bis dari pintu belakang. Karena tak ada tempat kosong, Ia harus berdiri. Seorang mahasiswa yang duduk di depan berdiri hendak memberikan kursinya pada wanita itu, tapi terlambat karena seorang penumpang lain telah terlebih dahulu memberikan kursinya pada wanita tersebut. Mahasiswa itu duduk kembali, wajahnya tampak kecewa dan sedih. Kawannnya yang duduk di sebelahnya pun bertanya, mengapa wajahnya berubah seketika menjadi sedih.
Dengan wajah yang masih sedih dan kecewa mahasiswa itu menjawab,
“Saya tak punya apa-apa yang bisa saya korbankan untuk orang-orang seperti mereka, kawan..Tak ada harta, tak pula tenaga. Saya tidak pernah turun ke jalan ketika hak-hak mereka dilanggar. Saya tidak berada di sana, ketika rekan-rekan kita ditembak mati saat memperjuangkan hak orang-orang seperti mereka. Menghentikan sebarisan tank selama lebih dari setengah jam seperti yang dilakukan reka-rekan kita di lapangan Tiananmen? Jelas saya tak mampu. Sekarang setidaknya saya punya kursi yang bisa saya berikan. Inilah lahan dan kesempatan pengorbanan yang tampak kecil, tapi setidaknya besar artinya bagi saya, kawan.. Namun sayang, kini kesempatan itu pun telah hilang seketika. Kawan mungkin tak mengerti. Tapi inilah cara saya, jalan bagi saya, kawan.. Latar belakang kita semua berbeda, kemampuan kita juga tentu berbeda. Lahan pengorbanan kita berbeda, dan cara kita berkorban untuk sesama pun kadang tidak sama..”
Bis terus melaju, dan akhirnya sampai di pangkalannya, di Bandung. Ketika dua orang mahasiswa itu hendak turun dari bis, kawan mahasiswa yang bersedih itu bicara padanya sambil tersenyum dan menepuk pundaknya,
“Saya paham sekarang apa yang kawan sedihkan..”
“Biar, biarlah kita semua berbeda dalam segala hal, kawan.. kecuali cinta, dan rasa yang utuh ketika terlahir sebagai manusia..”
Jatinangor, 22 November 2009
Terima kasih pada Soe Hok Gie dan Andy F. Noya atas inspirasi yang diberikan dalam tulisan ini..
Minggu, 15 November 2009
Monolog Seorang Tukang Nasi Goreng
Hari sudah cukup malam. Pembeli datang silih berganti, satu-satu. Satu datang, satu pergi. Lama sekali selang waktu antara yang datang dan yang pergi, hingga si tukang nasi goreng punya banyak waktu untuk bermonolog. Mulailah ia..
“Ya Tuhan..saya tidak ingat ini malam ke berapa yang saya jumpai sejak hidup di dunia ini. Yang saya tahu setiap pertemuan saya dengan malam adalah bukti kasih sayang Engkau pada hamba..”
“Ya Tuhan..saya tidak ingat berapa uang yang sudah saya peroleh sejak saya berjualan nasi goreng ini. Yang saya tahu, jika saya mencoba menghitung-hitung semua nikmat dari-Mu, maka saya tidak akan pernah dapat menghitungnya..”
***
Seorang pembeli datang, tersentak si tukang nasi goreng. Berhenti Ia bermonolog. Pembeli pergi, Ia lanjut kembali.
“Ya Tuhan..saya ini tukang nasi goreng. Tidak pernah bermimpi punya mobil dan rumah mewah dari hasil berjualan ini. Tidak pernah bermimpi menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. Menyekolahkan anak buat saya hanya formalitas agar kelak ia tidak gampang dibodohi..”
“Ya Tuhan..saya ini tukang nasi goreng. Hidup buat saya hanyalah untuk malam ini, dan apa yang bisa saya dan anak istri makan esok hari. Saya tidak paham apa yang diributkan petinggi-petinggi negara ini di ibukota, tidak mengerti apa itu kriminalisasi, bahkan tak tahu apa dampak korupsi..”
***
Datang lagi seorang pembeli, si tukang nasi goreng kembali tersentak. Ia berhenti lagi bermonolog. Pembeli pergi, Ia lanjut kembali.
“Ya Tuhan..saya ini tukang nasi goreng. Standar kebahagiaan buat saya tidak setinggi langit. Pertemuan dengan malam ini buat saya adalah kebahagiaan, menghabiskan waktu bersama anak dan istri dalam kesederhanaan dengan rizki yang halal adalah kebahagiaan. Kebahagiaan buat saya tidak dinilai dari seberapa besar rumah yang bisa dibangun dan seberapa banyak mobil mewah yang bisa diparkir di halamannya, tapi justru diperoleh dengan cara-cara yang mencederai hak-hak orang lain..”
***
Sudah tak ada pembeli yang datang, bahkan di jalan tak ada lagi orang yang lalu-lalang. Sepi sekali. Malam sudah sangat larut. Si tukang nasi goreng berkemas untuk pulang. Semua sudah dibereskan dan dimasukkan ke dalam gerobak. Ketika hendak mendorong gerobak, tak sengaja dilihatnya tokek sedang menangkap seekor serangga di tembok sebuah warung yang sudah tutup.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah, bermonolog lagi Ia dalam hati.
“Ya Tuhan..pembeli malam ini memang benar-benar sepi. Tapi saya tidak khawatir..karena bukankah tidak ada makhluk yang rizkinya tidak Engkau atur, bahkan seekor binatang melata sekalipun..”
Ia tersenyum. Besok siang Ia harus kembali bangun dan mempersiapkan kembali dagangannya untuk menjalani rutinitas malam yang nyaris selalu sama..
Jatinangor, 10 November 2009
“Ya Tuhan..saya tidak ingat ini malam ke berapa yang saya jumpai sejak hidup di dunia ini. Yang saya tahu setiap pertemuan saya dengan malam adalah bukti kasih sayang Engkau pada hamba..”
“Ya Tuhan..saya tidak ingat berapa uang yang sudah saya peroleh sejak saya berjualan nasi goreng ini. Yang saya tahu, jika saya mencoba menghitung-hitung semua nikmat dari-Mu, maka saya tidak akan pernah dapat menghitungnya..”
***
Seorang pembeli datang, tersentak si tukang nasi goreng. Berhenti Ia bermonolog. Pembeli pergi, Ia lanjut kembali.
“Ya Tuhan..saya ini tukang nasi goreng. Tidak pernah bermimpi punya mobil dan rumah mewah dari hasil berjualan ini. Tidak pernah bermimpi menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. Menyekolahkan anak buat saya hanya formalitas agar kelak ia tidak gampang dibodohi..”
“Ya Tuhan..saya ini tukang nasi goreng. Hidup buat saya hanyalah untuk malam ini, dan apa yang bisa saya dan anak istri makan esok hari. Saya tidak paham apa yang diributkan petinggi-petinggi negara ini di ibukota, tidak mengerti apa itu kriminalisasi, bahkan tak tahu apa dampak korupsi..”
***
Datang lagi seorang pembeli, si tukang nasi goreng kembali tersentak. Ia berhenti lagi bermonolog. Pembeli pergi, Ia lanjut kembali.
“Ya Tuhan..saya ini tukang nasi goreng. Standar kebahagiaan buat saya tidak setinggi langit. Pertemuan dengan malam ini buat saya adalah kebahagiaan, menghabiskan waktu bersama anak dan istri dalam kesederhanaan dengan rizki yang halal adalah kebahagiaan. Kebahagiaan buat saya tidak dinilai dari seberapa besar rumah yang bisa dibangun dan seberapa banyak mobil mewah yang bisa diparkir di halamannya, tapi justru diperoleh dengan cara-cara yang mencederai hak-hak orang lain..”
***
Sudah tak ada pembeli yang datang, bahkan di jalan tak ada lagi orang yang lalu-lalang. Sepi sekali. Malam sudah sangat larut. Si tukang nasi goreng berkemas untuk pulang. Semua sudah dibereskan dan dimasukkan ke dalam gerobak. Ketika hendak mendorong gerobak, tak sengaja dilihatnya tokek sedang menangkap seekor serangga di tembok sebuah warung yang sudah tutup.
Dalam perjalanan pulang menuju rumah, bermonolog lagi Ia dalam hati.
“Ya Tuhan..pembeli malam ini memang benar-benar sepi. Tapi saya tidak khawatir..karena bukankah tidak ada makhluk yang rizkinya tidak Engkau atur, bahkan seekor binatang melata sekalipun..”
Ia tersenyum. Besok siang Ia harus kembali bangun dan mempersiapkan kembali dagangannya untuk menjalani rutinitas malam yang nyaris selalu sama..
Jatinangor, 10 November 2009
Rabu, 04 November 2009
Apakah di Balik Tembok Rumah Sakit Jiwa tak Ada Air Mata?
Saya kenal Asrul (bukan nama sebenarnya) ketika kami sekeluarga pindah dari Padang ke Sawahlunto tahun 1991. Pertama kali saya mendengar namanya dari kedua kakak saya, yang merupakan teman mengaji Asrul di surau. Setiap malam, ketika makan bersama keluarga, kedua kakak saya selalu bercerita tentang tingkah polah teman baru mereka yang bernama Asrul itu. Mereka bercerita tentang sifat Asrul yang lucu, seperti sifatnya yang sangat penakut pada kucing.
Sebelumnya saya tidak begitu kenal Asrul, tapi setelah rumahnya pindah ke belakang rumah saya, kami jadi cukup sering main. Ia hampir sebaya saya, hanya lebih tua satu tahun. Setelah sering main, saya tahu bahwa ternyata Asrul orangnya memang unik dan lucu. Saya ingat dulu ia pernah bilang pada saya saat melihat semut-semut di tembok, “Bayu, semut-semut merah itu adalah semut Belanda, dan semut-semut hitam itu adalah semut Indonesia.” Kata-kata yang masih membuat saya tertawa bila teringat.
Saya sering main ke rumah Asrul. Ia punya banyak mainan yang bagus-bagus, walau belakangan saya sadari bahwa itu memang bukan mainannya, melainkan mainan adik-adiknya. Dari sering main ke rumahnya itu juga saya mulai menyadari ada yang salah dengan sikap kedua orang tua dan kedua adiknya terhadap Asrul.
Ibunya selalu berbicara dengan cara membentak pada Asrul. Sikap ibunya terhadap Asrul sangat kasar, tak jarang ia main tangan, menarik paksa, dan sebagainya. Tindakan seperti itu sering dilakukannya meskipun saat itu saya sedang main di rumah mereka. Setiap hal yang dilakukan Asrul sepertinya selalu salah di mata Ibunya. Ayahnya, walaupun tidak sekejam Ibunya, juga sering memarahi Asrul. Ia tampaknya tak mampu berbuat banyak walau hanya untuk membela anaknya itu.
Ironisnya, perlakuan yang sama tidak pernah didapatkan kedua adiknya. Mereka berdua sangat dimanja. Yang lebih menyedihkan, kedua adiknya malah sering memancing masalah agar Asrul dihukum kedua orang tuanya. Jika Asrul melakukan sedikit saja kesalahan, mereka akan segera lapor pada kedua orang tuanya agar ‘ditindaklanjuti’. Kombinasi yang pas antara kedua orang tua dan kedua adiknya sukses menjadikan rumah sebagai tempat terburuk di kolong langit ini bagi Asrul.
Tahun 1998, saya sekeluarga pindah dari Sawahlunto dan tidak tahu bagaimana nasib Asrul setelah itu. Yang saya yakin pasti kehidupan pada tahun-tahun ke depan akan dijalaninya dengan sulit. Pada tahun 2000, kami sekeluarga berlibur ke Padang dan mampir ke Sawahlunto. Kami bertemu Asrul, dan dia masih tampak baik-baik saja.
Setelah enam tahun tidak pulang kampung, pada tahun 2006 saya sekeluarga kembali berlibur ke Padang, dan kami mampir sebentar di Sawahlunto sebelum menuju Padang. Kami mampir di kantor rumah tahanan negara Sawahlunto, tempat Papa saya dulu bekerja.
Disana kami bertemu pegawai-pegawai rutan yang sebagian juga tetangga kami dulu. Ibu Asrul juga ada disana, tapi Ayahnya tidak ada karena sedang bertugas ke Padang. Secara tidak sengaja kedua orang tua saya bertanya pada Ibu Asrul, bagaimana kabar Asrul dan dimana Ia sekarang. Tapi yang menjawab justru pegawai lain yang dulu juga merupakan tetangga dekat saya dan Asrul.
“Asrul kemarin-kemarin sakit, dan sekarang obatnya sudah habis. Sekarang dia ada disini.” ujarnya.
Kami sangat kaget campur heran. Bagaimana mungkin Ibunya menitipkan anaknya yang sakit di dalam penjara? Pak pegawai itu tak lama pergi ke bawah, ke ruang tahanan, untuk mengajak Asrul bertemu kami. Tidak lama berselang Pak pegawai datang dengan seorang pemuda berpeci dan berkalung tasbih. Pemuda itu tidak tampak sakit, dan tampak tertawa sumringah dari jauh. Setelah melihatnya dari dekat, saya baru bisa mengenali pemuda itu. Dia memang benar Asrul, teman main masa kecil saya.
Dia tidak berhenti tertawa, sikap dan gerak-geriknya ternyata memang menunjukkan bahwa dia tidak baik-baik saja. Ternyata itulah yang dimaksud “sakit” oleh Pak pegawai tadi. Namun ketika Pak pegawai menyuruh Asrul menyalami kami satu persatu, dia ternyata masih mengenali dan masih dapat menyebutkan nama kami satu per satu.
Tidak lama Asrul bertemu kami. Pak pegawai membawanya kembali ke ruang tahanan dengan paksa, tapi Asrul memberontak dan menendang apapun yang bisa ia tendang.
“Asrul dititipkan disini sementara karena jika kambuh ia sering mengamuk”, ujar Ibunya.
“Tapi apakah lantas Ia pantas dititipkan disini?” saya bertanya dalam hati.
Sekian lama ia menderita, dan kini ia harus menunggu kesembuhan yang tidak tahu kapan datang, di sebuah tempat yang tidak seharusnya ia berada, tanpa kasih sayang orang tua pula.
Hari-hari berikutnya kami berada di Padang, kami mendapat kabar bahwa Asrul sudah dibawa ke rumah sakit jiwa di Padang oleh orang tuanya. Sejak saat itu saya tidak pernah mendengar kabar tentangnya lagi.
Sungguh kasihan nasib Asrul, di saat banyak anak (bahkan kedua adiknya) tumbuh dan berkembang dengan siraman kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tua mereka, ia justru dibesarkan dari siraman air matanya sendiri yang terus mengalir.
Asrul adalah perpaduan antara Trapani dan Ari Anggara. Asrul adalah Trapani. Namun jika nasib Trapani berakhir di bangsal rumah sakit jiwa karena kasih sayang Ibunya yang sangat berlimpah, tidak demikian halnya dengan Asrul. Asrul adalah Ari Anggara. Ia memang tidak benar-benar mati, tapi hak-haknya untuk tumbuh dan hidup seperti teman-teman sebayanya sudah tercerabut dan mati. Dan kini, Ia telah benar-benar mati dalam hidupnya..
Tulisan ini tidak akan pernah berarti apa-apa, jika masih banyak orang tua yang memposisikan anak sebagai sebuah posesi, bukan amanat..
Sebelumnya saya tidak begitu kenal Asrul, tapi setelah rumahnya pindah ke belakang rumah saya, kami jadi cukup sering main. Ia hampir sebaya saya, hanya lebih tua satu tahun. Setelah sering main, saya tahu bahwa ternyata Asrul orangnya memang unik dan lucu. Saya ingat dulu ia pernah bilang pada saya saat melihat semut-semut di tembok, “Bayu, semut-semut merah itu adalah semut Belanda, dan semut-semut hitam itu adalah semut Indonesia.” Kata-kata yang masih membuat saya tertawa bila teringat.
Saya sering main ke rumah Asrul. Ia punya banyak mainan yang bagus-bagus, walau belakangan saya sadari bahwa itu memang bukan mainannya, melainkan mainan adik-adiknya. Dari sering main ke rumahnya itu juga saya mulai menyadari ada yang salah dengan sikap kedua orang tua dan kedua adiknya terhadap Asrul.
Ibunya selalu berbicara dengan cara membentak pada Asrul. Sikap ibunya terhadap Asrul sangat kasar, tak jarang ia main tangan, menarik paksa, dan sebagainya. Tindakan seperti itu sering dilakukannya meskipun saat itu saya sedang main di rumah mereka. Setiap hal yang dilakukan Asrul sepertinya selalu salah di mata Ibunya. Ayahnya, walaupun tidak sekejam Ibunya, juga sering memarahi Asrul. Ia tampaknya tak mampu berbuat banyak walau hanya untuk membela anaknya itu.
Ironisnya, perlakuan yang sama tidak pernah didapatkan kedua adiknya. Mereka berdua sangat dimanja. Yang lebih menyedihkan, kedua adiknya malah sering memancing masalah agar Asrul dihukum kedua orang tuanya. Jika Asrul melakukan sedikit saja kesalahan, mereka akan segera lapor pada kedua orang tuanya agar ‘ditindaklanjuti’. Kombinasi yang pas antara kedua orang tua dan kedua adiknya sukses menjadikan rumah sebagai tempat terburuk di kolong langit ini bagi Asrul.
Tahun 1998, saya sekeluarga pindah dari Sawahlunto dan tidak tahu bagaimana nasib Asrul setelah itu. Yang saya yakin pasti kehidupan pada tahun-tahun ke depan akan dijalaninya dengan sulit. Pada tahun 2000, kami sekeluarga berlibur ke Padang dan mampir ke Sawahlunto. Kami bertemu Asrul, dan dia masih tampak baik-baik saja.
Setelah enam tahun tidak pulang kampung, pada tahun 2006 saya sekeluarga kembali berlibur ke Padang, dan kami mampir sebentar di Sawahlunto sebelum menuju Padang. Kami mampir di kantor rumah tahanan negara Sawahlunto, tempat Papa saya dulu bekerja.
Disana kami bertemu pegawai-pegawai rutan yang sebagian juga tetangga kami dulu. Ibu Asrul juga ada disana, tapi Ayahnya tidak ada karena sedang bertugas ke Padang. Secara tidak sengaja kedua orang tua saya bertanya pada Ibu Asrul, bagaimana kabar Asrul dan dimana Ia sekarang. Tapi yang menjawab justru pegawai lain yang dulu juga merupakan tetangga dekat saya dan Asrul.
“Asrul kemarin-kemarin sakit, dan sekarang obatnya sudah habis. Sekarang dia ada disini.” ujarnya.
Kami sangat kaget campur heran. Bagaimana mungkin Ibunya menitipkan anaknya yang sakit di dalam penjara? Pak pegawai itu tak lama pergi ke bawah, ke ruang tahanan, untuk mengajak Asrul bertemu kami. Tidak lama berselang Pak pegawai datang dengan seorang pemuda berpeci dan berkalung tasbih. Pemuda itu tidak tampak sakit, dan tampak tertawa sumringah dari jauh. Setelah melihatnya dari dekat, saya baru bisa mengenali pemuda itu. Dia memang benar Asrul, teman main masa kecil saya.
Dia tidak berhenti tertawa, sikap dan gerak-geriknya ternyata memang menunjukkan bahwa dia tidak baik-baik saja. Ternyata itulah yang dimaksud “sakit” oleh Pak pegawai tadi. Namun ketika Pak pegawai menyuruh Asrul menyalami kami satu persatu, dia ternyata masih mengenali dan masih dapat menyebutkan nama kami satu per satu.
Tidak lama Asrul bertemu kami. Pak pegawai membawanya kembali ke ruang tahanan dengan paksa, tapi Asrul memberontak dan menendang apapun yang bisa ia tendang.
“Asrul dititipkan disini sementara karena jika kambuh ia sering mengamuk”, ujar Ibunya.
“Tapi apakah lantas Ia pantas dititipkan disini?” saya bertanya dalam hati.
Sekian lama ia menderita, dan kini ia harus menunggu kesembuhan yang tidak tahu kapan datang, di sebuah tempat yang tidak seharusnya ia berada, tanpa kasih sayang orang tua pula.
Hari-hari berikutnya kami berada di Padang, kami mendapat kabar bahwa Asrul sudah dibawa ke rumah sakit jiwa di Padang oleh orang tuanya. Sejak saat itu saya tidak pernah mendengar kabar tentangnya lagi.
Sungguh kasihan nasib Asrul, di saat banyak anak (bahkan kedua adiknya) tumbuh dan berkembang dengan siraman kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tua mereka, ia justru dibesarkan dari siraman air matanya sendiri yang terus mengalir.
Asrul adalah perpaduan antara Trapani dan Ari Anggara. Asrul adalah Trapani. Namun jika nasib Trapani berakhir di bangsal rumah sakit jiwa karena kasih sayang Ibunya yang sangat berlimpah, tidak demikian halnya dengan Asrul. Asrul adalah Ari Anggara. Ia memang tidak benar-benar mati, tapi hak-haknya untuk tumbuh dan hidup seperti teman-teman sebayanya sudah tercerabut dan mati. Dan kini, Ia telah benar-benar mati dalam hidupnya..
Tulisan ini tidak akan pernah berarti apa-apa, jika masih banyak orang tua yang memposisikan anak sebagai sebuah posesi, bukan amanat..
Langganan:
Postingan (Atom)