Saya kenal Asrul (bukan nama sebenarnya) ketika kami sekeluarga pindah dari Padang ke Sawahlunto tahun 1991. Pertama kali saya mendengar namanya dari kedua kakak saya, yang merupakan teman mengaji Asrul di surau. Setiap malam, ketika makan bersama keluarga, kedua kakak saya selalu bercerita tentang tingkah polah teman baru mereka yang bernama Asrul itu. Mereka bercerita tentang sifat Asrul yang lucu, seperti sifatnya yang sangat penakut pada kucing.
Sebelumnya saya tidak begitu kenal Asrul, tapi setelah rumahnya pindah ke belakang rumah saya, kami jadi cukup sering main. Ia hampir sebaya saya, hanya lebih tua satu tahun. Setelah sering main, saya tahu bahwa ternyata Asrul orangnya memang unik dan lucu. Saya ingat dulu ia pernah bilang pada saya saat melihat semut-semut di tembok, “Bayu, semut-semut merah itu adalah semut Belanda, dan semut-semut hitam itu adalah semut Indonesia.” Kata-kata yang masih membuat saya tertawa bila teringat.
Saya sering main ke rumah Asrul. Ia punya banyak mainan yang bagus-bagus, walau belakangan saya sadari bahwa itu memang bukan mainannya, melainkan mainan adik-adiknya. Dari sering main ke rumahnya itu juga saya mulai menyadari ada yang salah dengan sikap kedua orang tua dan kedua adiknya terhadap Asrul.
Ibunya selalu berbicara dengan cara membentak pada Asrul. Sikap ibunya terhadap Asrul sangat kasar, tak jarang ia main tangan, menarik paksa, dan sebagainya. Tindakan seperti itu sering dilakukannya meskipun saat itu saya sedang main di rumah mereka. Setiap hal yang dilakukan Asrul sepertinya selalu salah di mata Ibunya. Ayahnya, walaupun tidak sekejam Ibunya, juga sering memarahi Asrul. Ia tampaknya tak mampu berbuat banyak walau hanya untuk membela anaknya itu.
Ironisnya, perlakuan yang sama tidak pernah didapatkan kedua adiknya. Mereka berdua sangat dimanja. Yang lebih menyedihkan, kedua adiknya malah sering memancing masalah agar Asrul dihukum kedua orang tuanya. Jika Asrul melakukan sedikit saja kesalahan, mereka akan segera lapor pada kedua orang tuanya agar ‘ditindaklanjuti’. Kombinasi yang pas antara kedua orang tua dan kedua adiknya sukses menjadikan rumah sebagai tempat terburuk di kolong langit ini bagi Asrul.
Tahun 1998, saya sekeluarga pindah dari Sawahlunto dan tidak tahu bagaimana nasib Asrul setelah itu. Yang saya yakin pasti kehidupan pada tahun-tahun ke depan akan dijalaninya dengan sulit. Pada tahun 2000, kami sekeluarga berlibur ke Padang dan mampir ke Sawahlunto. Kami bertemu Asrul, dan dia masih tampak baik-baik saja.
Setelah enam tahun tidak pulang kampung, pada tahun 2006 saya sekeluarga kembali berlibur ke Padang, dan kami mampir sebentar di Sawahlunto sebelum menuju Padang. Kami mampir di kantor rumah tahanan negara Sawahlunto, tempat Papa saya dulu bekerja.
Disana kami bertemu pegawai-pegawai rutan yang sebagian juga tetangga kami dulu. Ibu Asrul juga ada disana, tapi Ayahnya tidak ada karena sedang bertugas ke Padang. Secara tidak sengaja kedua orang tua saya bertanya pada Ibu Asrul, bagaimana kabar Asrul dan dimana Ia sekarang. Tapi yang menjawab justru pegawai lain yang dulu juga merupakan tetangga dekat saya dan Asrul.
“Asrul kemarin-kemarin sakit, dan sekarang obatnya sudah habis. Sekarang dia ada disini.” ujarnya.
Kami sangat kaget campur heran. Bagaimana mungkin Ibunya menitipkan anaknya yang sakit di dalam penjara? Pak pegawai itu tak lama pergi ke bawah, ke ruang tahanan, untuk mengajak Asrul bertemu kami. Tidak lama berselang Pak pegawai datang dengan seorang pemuda berpeci dan berkalung tasbih. Pemuda itu tidak tampak sakit, dan tampak tertawa sumringah dari jauh. Setelah melihatnya dari dekat, saya baru bisa mengenali pemuda itu. Dia memang benar Asrul, teman main masa kecil saya.
Dia tidak berhenti tertawa, sikap dan gerak-geriknya ternyata memang menunjukkan bahwa dia tidak baik-baik saja. Ternyata itulah yang dimaksud “sakit” oleh Pak pegawai tadi. Namun ketika Pak pegawai menyuruh Asrul menyalami kami satu persatu, dia ternyata masih mengenali dan masih dapat menyebutkan nama kami satu per satu.
Tidak lama Asrul bertemu kami. Pak pegawai membawanya kembali ke ruang tahanan dengan paksa, tapi Asrul memberontak dan menendang apapun yang bisa ia tendang.
“Asrul dititipkan disini sementara karena jika kambuh ia sering mengamuk”, ujar Ibunya.
“Tapi apakah lantas Ia pantas dititipkan disini?” saya bertanya dalam hati.
Sekian lama ia menderita, dan kini ia harus menunggu kesembuhan yang tidak tahu kapan datang, di sebuah tempat yang tidak seharusnya ia berada, tanpa kasih sayang orang tua pula.
Hari-hari berikutnya kami berada di Padang, kami mendapat kabar bahwa Asrul sudah dibawa ke rumah sakit jiwa di Padang oleh orang tuanya. Sejak saat itu saya tidak pernah mendengar kabar tentangnya lagi.
Sungguh kasihan nasib Asrul, di saat banyak anak (bahkan kedua adiknya) tumbuh dan berkembang dengan siraman kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tua mereka, ia justru dibesarkan dari siraman air matanya sendiri yang terus mengalir.
Asrul adalah perpaduan antara Trapani dan Ari Anggara. Asrul adalah Trapani. Namun jika nasib Trapani berakhir di bangsal rumah sakit jiwa karena kasih sayang Ibunya yang sangat berlimpah, tidak demikian halnya dengan Asrul. Asrul adalah Ari Anggara. Ia memang tidak benar-benar mati, tapi hak-haknya untuk tumbuh dan hidup seperti teman-teman sebayanya sudah tercerabut dan mati. Dan kini, Ia telah benar-benar mati dalam hidupnya..
Tulisan ini tidak akan pernah berarti apa-apa, jika masih banyak orang tua yang memposisikan anak sebagai sebuah posesi, bukan amanat..
seperti biasa bay..
BalasHapusgw suka kata2 terakhir.
waduh berarti tiap tulisan gw kekuatannya ada di kata2 terakhir ya..hahahaha
BalasHapus