Kamis, 24 Mei 2012

Melangkah ke Bromo # Part 1

Setelah menghabiskan waktu selama delapan jam di kereta dari Jogja, akhirnya kami tiba di Stasiun Baru Malang pada pukul delapan pagi. Kami memutuskan untuk numpang mandi di WC umum stasiun terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo karena badan rasanya sudah terasa sangat lengket  akibat tidak mandi dua hari. Ternyata butuh waktu lama untuk dapat giliran mandi, karena keadaan di stasiun cukup ramai pengunjung yang baru saja turun dari kereta. Saya bahkan harus menunggu seorang Ibu yang mandi plus memandikan dua orang anaknya! Masuk akal..
'touch down' Malang!
Pada pukul sepuluh pagi, setelah selesai mandi dan sedikit berdandan agar terlihat keren ala backpacker kaya, kami melanjutkan perjalanan menuju terminal Arjosari, Malang, dengan menyetop angkot dengan kode AL di depan stasiun, sesuai petunjuk yang kami peroleh dari Mbah Google. Dari terminal, kami menaiki bis dengan rute Malang-Banyuwangi. Ada perasaan was-was saat kami memutuskan untuk naik bis ini. Apalagi teman saya yang menjadi ‘seksi Google’ ini tampak agak ragu-ragu. Akhirnya terjadi kejadian lucu disini. Teman saya yang sudah browsing internet bertanya pada Pak Kondektur sebelum kami naik bis, “ Pak ini bis ke Banyu Angi tidak?” Pak Kondektur menjawab ‘tegas-tegas keren’ dengan berkata, “Iya, ini ke Banyuwangi!” Kemudian beliau balik bertanya, “Emang sampean mau kemana?”. Teman saya menjawab, “Ke Banyu Angi, Pak. Ini turun disana ngga?” “Ya, ini memang kesana. Naik, naik!” tegas Pak Kondektur. Saya sebenarnya mencium sesuatu yang agak aneh disini, apakah yang dimaksud teman saya ini memang Banyuwangi, atau memang daerah yang kami tuju untuk mencapai Bromo bernama Banyu Angi. Setahu saya, Bromo tidak terletak sampai jauh ke Banyuwangi. Tapi karena bukan saya yang mengurusi urusan per-browsing-an, akhirnya saya take it for granted sajalah. Di atas bis, saya coba tanya lagi ke teman saya, ” Ini kita mau kemana sih?” “Kita mau ke Banyu Angi, nama terminalnya Probolinggo” jawabnya. Hoo..akhirnya saya tenang setelah mengetahui Banyu Angi adalah nama sebuah terminal.
Setelah duduk di bis yang berjalan beberapa kilometer, Pak Kondektur berkeliaran menagih ongkos. Akhirnya tibalah giliran kami. “Kemana?” Tanya Pak Kondektur. Saya jawab dengan pede, “Banyu Angi, Pak!” Pak Kondektur membalas, ”90 ribu (untuk dua orang)”. Saya kaget sekali dan melihat ke arah teman saya sambil berkata dalam hati, “Busyet ko mahal buanget!” Namun akhirnya saya tetap mengeluarkan uang dan membayar 90 ribu rupiah. Saat Pak Kondektur berlalu setelah menagih ongkos dan sampai di bagian depan bis, teman saya berkata sambil melihat BB-nya, “Wah salah, Bay! Bukan Banyu Angi, tapi  Bayu Angga!” O walah jon, jon..ternyata teman saya salah ingat.  Akhirnya dengan malu-malu saya colek Pak Kondek, “Pak ini ke Bayu Angga ngga?”
“Emang sampean mau kemana???” Ia malah balik bertanya dengan nada seperti orang ngajak berantem. “Bayu Angga, Pak.” kami menjawab sekali lagi. “Emang sampean mau kemana?” aduhai beliau bertanya sekali lagi dengan nada bicara layaknya seorang rocker gaek. “Ke Bromo, Pak!” akhirnya kami jawab to the point saja. “O walah, Dek, Dek..Makanya saya tanya tadi mau kemana, biar jawab yang jelas. Keliru ini” kata Pak Kondek. Saya kaget bukan kepalang, bersiap-siap untuk turun. Tapi saya tanya sekali lagi, “ini turun di Bayu Angga ngga, Pak?” Beliau menjawab sambil mengembalikan beberapa uang saya, “Makanya tadi bilang yang jelas, mau ke Bromo. Iya ini lewat Bayu Angga.” Perbincangan panas ini ternyata menarik perhatian seluruh penumpanng bis. Saya baru sadar ternyata mereka semua memandang ke arah kami dan mungkin bertanya, “Ini orang berdua dari mana sih? Ko udik banget! Hahaha. Ah tapi tidak apalah, toh akhirnya saya lega sekali, ternyata ini bis yang benar untuk menuju Bromo. Ongkosnya pun ternyata tidak semahal yang tadi, yaitu hanya 28 ribu untuk dua orang. Akhirnya kami duduk manis di bis menunggu turun di terminal Bayu Angga. Perjalanan dalam bis selanjutnya hanya dimeriahkan oleh pengamen-pengamen bersuara fals yang sambung-menyambung turun naik dengan ucapan pembukaan, “Ya maaf Bapak-bapak, Ibu-ibu..Pengamen lagi, pengamen lagi.. Selamat siang di dalam bis yang sedang menuju kotaku Pasuruan, Probolinggo dan sekitarnya..” Lantas mereka mulai bernyanyi.

***

Pukul setengah dua, kami tiba di terminal Bayu Angga, Probolinggo. Panas menyengat luar biasa, meskipun kota ini berada di kaki pegunungan. Badan lemas sekali rasanya. Oh iya kami baru ingat, ternyata dari pagi belum sempat ‘bertemu’ nasi. Akhirnya kami mampir dulu di kompleks perwarungan di sebelah terminal untuk makan siang, sekalian mencari kendaraan yang disebut bison oleh Mbah Google. Kendaraan ini konon katanya banyak parkir di dekat terminal, memiliki ciri-ciri berwarna hijau, dan hobinya suka ngetem. Kenapa kami mencari kendaraan ini? Karena menurut Mbah Google, kendaraan inilah yang kan mengantar kami naik ke Bromo sana.
Setelah selesai makan, kami menemukan sosok bison ini, yang ternyata adalah mobil ELF (kalo kata orang Pandeglang) berdasarkan kriteria yang sudah dijabarkan Mbah Google. Saat mau naik, ternyata penumpang masih kosong. Alamat menunggu lama, akhirnya kami memutuskan  untuk solat Dzuhur dulu dan bertanya pada sopir, dimanakah mesjid terdekat. Mas sopir menyuruh seorang anak muda sekira siswa kelas tiga SMP untuk mengantar kami ke mesjid terdekat tidak jauh di belakang warung. “Masnya santai aja dulu ya, nanti kalo udah mau berangkat kami kabarin” katanya. Ternyata benar, setelah kami solat dan beristirahat sejenak, sang kondektur tiba dengan membawa pesan bahwa mobil sudah siap berangkat. "Capcus ciyn!" (tapi dia tidak bilang begitu kok)
Bah! Setelah sampai di tempat perngeteman, ternyata mobil belum mau berangkat. “Santai dulu aja mas di luar, kira-kira dua orang lagi lah. Nunggu di dalem, panas.” Kata pemuda ini dengan logat bicara orang Bali.  “Kenalan dulu, nama saya Feri. Nanti saya yang nyopirin” tambahnya. Di dalam mobil saya lihat sudah cukup banyak penumpang, plus tiga orang bule: dua orang duduk di belakang dan satu orang duduk di depan. Tidak lama kemudian, datang tiga orang pemuda-pemudi. “Nah, sudah ada tiga orang ni, yuk kita berangkat!” kata Feri si sopir bison. Semua penumpang ditumpuk sedemikian rupa sebelum mobil berangkat. Teman saya kebagian duduk di bagian pojok paling belakang mobil, sedangkan saya duduk di depan, berdua dengan seorang bule. Mobil sudah penuh luar biasa, namun tepat saat mobil hendak berjalan, datang seorang nenek membawa barang bawaan banyak plus seorang pemuda. Aih, ini artinya penumpang akan lebih di-press sampai padat. Feri sang sopir menginstruksikan si bule untuk geser sedikit ke kanan, mendekat ke sisinya. Si bule pun menyuruh saya untuk memangku nenek yang baru datang tadi. WOW! Namun setelah diatur sedemikian sehingga oleh kondektur, hasil akhirnya adalah: saya duduk bertiga di depan di samping Pak Sopir yang sedang bekerja untuk membantu mobil agar tidak baik jalannya. Saya duduk di tengah, diapit seorang pemuda asal Jombang di kiri, dan seorang bule di kanan. Lamanya perjalanan kata Feri sekitar 1,5 jam. Oke Bromo, kami datang!
Situasi di dalam bison sebelum kedatangan Sang Nenek (dilihat dari posisi Diga)
Perjalanan dari Bayu Angga menuju Bromo adalah perjalanan yang sedikit demi sedikit menanjak. Udara lama kelamaan mulai terasa dingin. Jurang-jurang dengan pohon-pohon pinus mulai bermunculan. Tanjakan semakin lama semakin curam, tapi pemandangan makin lama makin indah. Kebun-kebun sayuran menghias lembah-lembah begitu rupa. Namun udara sejuk sayangnya membuat  mata terasa makin lama makin mengantuk. Beberapa kali saya tersentak bangun dari posisi tidur yang sangat tidak nyaman. Untuk menepis rasa kantuk, saya coba mengajak ngobrol bule yang terus menatap ke depan dengan tatapan  mata galau.  “Where are you from, Sir?” tanya  saya pada bule yang duduk di sebelah.  “Wales. You know it?” Ia balik bertanya. Waduh ini bule meremehkan pengetahuan geografi saya. “So you’re a British.” Jawab saya. Ia menjawab “Ya”. “Tuh kan tau gua juga, sembarangan sih lu” jawab saya dalam hati. Kemudian saya bertanya apakah ia sudah pernah ke Bromo sebelumnya. Ia menjawab belum, ini adalah yang pertama. Ia balik bertanya hal yang sama dan saya jawab, ini juga kali pertama saya kemari, soalnya rumah saya jauh dari sini. “You’ll take a jeep tomorrow?” si bule bertanya pada saya. Saya jawab, “Ya.” Selebihnya Si orang Wales banyak diam dan terus memandang ke depan. Bule ini sepertinya memang tipikal bule-bule Britania yang cool dan tidak suka banyak cakap.
Tidak lama mobil kemudian berhenti di sebuah hotel. Feri si sopir bertanya pada Mas-mas Wales, ”You stay here, right?” “Yeah,” jawab si bule. Kami yang berada di sebelah bule Wales ini pun turun satu persatu untuk memberi jalan agar ia bisa turun. Dua orang temannya yang duduk di belakang menyusulnya turun dari mobil. Ransel-ransel mereka yang diletakkan di atas mobil juga diturunkan. “Thank you. See you tomorrow.” ucapnya sebelum saya naik lagi ke mobil. Saya membalas, “Okay!”

(bersambung..)

Rabu, 08 Februari 2012

Sekolah Kehidupan


Ini adalah sekolah di luar sekolah. Semua orang bisa mendaftar jadi murid tanpa bayar sepeser pun. Semua yang bergerak, semua yang menua, dan semua yang berubah ini sedang menjelaskan banyak pelajaran. Merekalah gurunya. Belajarlah dengan mengambil hikmahnya. Merenunglah sebagai ganti membaca buku. Ujian bisa datang sewaktu-waktu, seringnya tiba-tiba. Siap tidak siap. Kalau kamu terus belajar,mudah-mudahan ujianmu lancar. Kemajuan dan prestasimu tidak dinilai dengan angka-angka atau huruf-huruf semata, tapi dengan kematangan, kedewasaan, kepekaan. Keberhasilanmu kelak tidak dijanjikan kebahagiaan semu seperti materi, tapi diganjar kebahagiaan hakiki. Ia datang dari hati.
Ini sekolah tanpa bangunan. Semua orang boleh datang dan pergi silih berganti, sesukanya, semaunya. Kamu semua boleh menolak pelajaran, duduk diam, menyimak antusias, jadi aktif atau memilih jadi pasif. Disini semua bisa jadi murid, semua juga bisa jadi guru.Hari ini kamu jadi murid, mungkin besok atau lusa, kamu yang jadi gurunya.
Ini sekolah tanpa pagar, ini sekolah tanpa bangunan. Ini sekolah, karunia Tuhan. ‘Sekolah kehidupan.’

Bandung, 5 Februari 2012

Selasa, 24 Januari 2012

Aku dan Bapakku

Bapakku lahir 57 tahun lalu, dan aku lahir 23 tahun yang tahun lalu. 
Bapakku sekolah sampai sarjana, tapi ia ingin aku wisuda sampai S3. 
Bapakku dulu mengabdi pada negri, tapi ia ingin esok aku mengabdi pada rakyat. 
Bapakku sudah pernah keluar negri. Tapi jika ia pernah injakkan kaki di padang Arafah, ia ingin aku menjelajah hingga gurun Nevada. 
Bapakku dulu berkutat dengan mesin tik, tapi kini ia ingin aku piawai memainkan jari di tuts-tuts keyboard komputer. 
Bapakku pecandu rokok nomer wahid, tapi ia kecewa jika aku coba-coba menghisap benda itu walau sedikit. 
Jika ketabahan ibunda Widji Tukul mengubah sayur murah terasa meriah, ketulusan bapakku menyulap ambulance jadi mobil mewah. 
Bapakku menitipkan sesuatu yang ia sebut ‘kebanggaan’ di pundakku, tapi ia tidak mau aku balik membangga-banggakannya. 
Bapakku memang tidak sempurna. Tapi kasih sayang dan pengorbanan yang ia curahkan dalam keadaan yang tidak sempurna itu meyakinkanku, bahwa ia dikirim ke dunia oleh Zat Yang Maha Sempurna.   
  

Ini bapakku, mana bapakmu?

Kamis, 12 Januari 2012

Jangan Tangkap Jangkrik!

Saya ingat masa-masa SMP dulu, di suatu subuh di bulan Ramadhan. Usai solat, berangkat cari jangkrik bersama seorang teman di belakang rumahnya. Saya berniat tangkap jangkrik lalu masukkan ke dalam toples, botol air mineral, atau wadah apa saja yang bisa ditaruh di kamar. “Suara jangkrik dalam kamar bikin suasana tidur macam di hutan, seperti di alam bebas,” kata teman. Saya jadi kepingin pelihara dan taruh di kamar jadinya. Biar bisa tidur macam di alam bebas.
Subuh itu kami dapat jangkriknya, walaupun cuma dua ekor. Itu pun kecil-kecil. Saya simpan di botol air mineral yang sudah diberi lubang-lubang kecil biar mereka bisa bernafas. Saya beri pula daun-daunan untuk mereka makan. Daun-daunnya bahkan saya basahi, biar mereka tidak kehausan. Masalah mereka senang atau bahagia, saya tak tahu dan terlalu peduli. Yang penting mereka bersuara buat saya, membuat suasana tidur saya nyaman bagai di hutan.
Cuma satu hari saja jangkrik-jangkrik itu bertahan. Satu ekor mencoba kabur, seekor lagi akhirnya mati. Apa yang saya berikan untuk mereka; tempat tinggal yang serupa habitat aslinya, makanan dan minuman, ternyata sama sekali tak membuat mereka mau bertahan. Mungkin karena disitu bukan tempatnya, bukan habitat aslinya. Ah, saya tidak mau lagi mencari. Istilah kerennya mungkin, saya tidak mau lagi mengeksploitasi.
Kemarin malam sepulang dari warung, saya dapati seorang tetangga bersama putrinya sedang menyisir semak-semak di tanah kosong depan rumah. Mau cari jangkrik katanya. Mereka sepertinya tergoda memelihara jangkrik di kamar setelah mendengar nyanyian serangga-serangga  yang mulai menggema kembali di sekitaran komplek rumah kami.
Kawan-kawan, saya bukan pecinta hewan sejati. Saya juga bukan seorang vegetarian. Tapi yang saya yakini, ketika orang-orang menangkap jangkrik dan berusaha mengkandangkannya untuk mendengar suaranya, di sisi lain mereka telah mengurangi kenyaringan dan kemerduan suara hewan-hewan itu. Saya yakin, suara-suara mereka di alam liar akan jauh lebih indah dan nyaring. Usia mereka pun mungkin akan lebih panjang daripada usia mereka di dalam kandang. Selain itu, ketika orang-orang menangkap jangkrik dan meletakkannya dalam kamar, rumah, atau di tempat mana pun yang mereka anggap ‘private’, maka perlahan-lahan mereka telah mencoba menangkap dan mengkandangkan hak orang lain, hak tetangganya, untuk bisa menikmati orkestra jangkrik dari tempat yang seharusnya mereka berada, di alam bebas sana.

Sabtu, 07 Januari 2012

Struggling to Suffer*

The application form has been sent and the confirmation email has been received. There's a little bit of serenity to feel because I have stayed up all night for almost two weeks to rewrite these essays. It reminds me of about six months ago, when I did the same thing: spending nights to convert memories in my head into words that eventually become a complete writing. Frankly, I’m afraid to face another failure. But I have finally decided that I won’t back off or just surrender. I’ve tried as hard as I can, and now is time to pray. I’ve just taken my ‘second-time’ small step tonight. There’s a prayer said to accompany this application, “God please give the best place for my sincerity.” By the time the form has just been sent successfully, an imagination beautifully painted inside my head.
***
I will be standing in front of the door of the classroom at a plain school building, waiting for my lovely shoeless-students to run and come closer. Their shirts and faces look dirty but the smiles and laughter sparkle naturally with no editing as I always see in some ‘commercial break’ of cosmetic products on television. The afternoon comes, the sun is gone, then we're all home. The collaboration of quiet night, the sound of night-insects and river at the back of traditional woody house play a melodious symphony. The people’s faces are just lit by dim kerosene-lamps. When the morning comes, we don’t have to watch and hear some irritating news of graft, bribery, and other corruption cases anymore. Life's so simple here, but I realize this kind of simplicity does bring happiness into my life. I talk to myself as I'm starring at the ceiling before going to sleep, "The kids here must get the best education. They have rights to be smart, enlightened, and to stand equally with their peers in other places. I hope some day there will be, at least one out of tens or two out of hundreds of children coming to school this morning who are brave to fight against injustice and bring a big change to their society.
***
I suddenly awake from my beautiful daydream. The night has deeply fallen and I begin to feel the cold. I pull the blanket and wrap almost the whole of my body. If only God opens this small path for me then I’ll be able to enjoy this comfortable bed and shining electrical lamps no more, at least for a year. Yet who wants not to exchange these comforts with a more real happiness?

Thursday, December 15, 2011
I wrote this note soon after sending my application form for Gerakan Indonesia Mengajar
*inspired by a title of book written by Jeffrey Lang, ‘Struggling to Surrender’

Senin, 28 November 2011

'Selimut Debu', Karya Agustinus Wibowo: Sebuah Catatan

Saya pertama kali melihat dan mendengar nama Agustinus Wibowo di acara Kick Andy, episode ‘Para Petualang’. Di acara itu, Agustinus menjadi salah seorang narasumber yang bercerita banyak mengenai pengalaman backpacking-nya yang ‘nekat’ di luar negri. Unik sekali. Banyak cerita-cerita menarik, lucu dan menggelitik yang keluar dari mulutnya. Laki-laki ini pemberani! Saya begitu tertarik dan terkesan mendengar pengalaman-pengalaman Agustinus. Negara yang ia pilih untuk dikunjungi dan jelajahi jelas bukan negara biasa. Bukan Jepang, bukan Korea, Australia, Amerika, atau salah satu negara maju di benua Eropa, melainkan sebuah negara yang sudah babak belur akibat perang, terkenal reputasinya sebagai negara kacau balau: Afghanistan! Di acara Kick Andy itu pula Agustinus memperkenalkan sebuah buku yang ia tulis sendiri, berkisah tentang catatan perjalanannya menjelajah setiap sudut Afghanistan. Buku itu ia beri judul ‘Selimut Debu’. Penasaran ingin tahu lebih banyak dengan kisahnya di negri Osama bin Laden itu, saya akhirnya memutuskan untuk membeli bukunya. Buku ini tergolong tebal buat saya, 461 halaman. Namun cara menulis Agustinus yang sangat baik membuat saya tidak bosan membuka lembar demi lembarnya.

Sesuai judul bukunya, Agustinus mengibaratkan Afghanistan sebagai tempat menarik yang tertutup ‘selimut debu’. Meskipun hancur lebur akibat perang, ia menunjukkan bahwa negri ini masih punya paras jelita, sisa-sisa kejayaan peradaban di masa lampau, sisi-sisi kemanusiaan para penduduknya dan -yang paling penting- harapan masyarakatnya untuk bangkit dari keterpurukan. Agustinus menemukan kembali harta karun dunia yang telah lama hilang bernama Afghanistan.

***

Agustinus berkelana dari satu propinsi ke propinsi lain di Afghanistan. Ia beristirahat hingga terlelap dari satu shamovar –kedai teh dalam bahasa Afghan- kumuh ke shamovar kumuh lain, menghabiskan malam-malam gelap gulita tanpa penerangan dari dusun terpencil satu ke dusun terpencil yang lain. Ia turun naik menumpang jeep dan truk tua buatan Rusia, mengenakan shalwar qamiz –pakaian adat Afghan-. Wajahnya yang sangat ‘mongoloid’ membuat banyak orang Afghan mengiranya seorang pria dari suku Hazara –salah satu etnik yang mendiami Afghanistan-. Agustinus begitu menyatu. Ia menjadi bagian dari rakyat Afghanistan. Ia turut lebur dalam debu-debu yang menyelimuti tanah gersang negri Afghan.

Agustinus menjadi saksi hidup di sebuah daerah berdimensi lain dari bumi yang kita diami. Di Kabul –ibukota Afghanistan-, Agustinus melihat bagaimana perang telah memporak-porandakan negri ini. Orang-orang cacat kehilangan anggota tubuh akibat hantaman roket atau terinjak ranjau berkeliaran dimana-mana, kebanyakan menjadi pengemis di jalanan. Orang tua, wanita hingga anak-anak tak berdosa jadi korban – perang tidak memilih mangsanya (kata Agustinus). Kepentingan asing sangat kentara pula di negri ini, khususnya di Kabul. Tentara perdamaian dari macam-macam negara berpatroli di jalan setiap hari. Lembaga-lembaga donor asing menjamur, pekerja sosial dan relawan berdatangan dari seluruh penjuru dunia. Dana bantuan untuk rekonstruksi berjuta-juta dollar digelontorkan, namun ironisnya seperti sama sekali tidak berdampak apa-apa bagi rakyat Afghan. Jutaan dollar menguap begitu saja setiap tahunnya. Penyaluran dana tidak dapat diserahkan langsung kepada rakyat miskin, melainkan mesti lewat proses birokrasi yang berbelit. Lembaga donor dan rakyat miskin Afghan sepertinya punya dimensi kehidupan masing-masing.

Di Kandahar, Agustinus menyaksikan bagaimana teror bom, serangan roket dan penculikan telah menjadi makanan sehari-hari rakyat Afghan. Bom meledak hampir dua hari sekali. Tidurnya bahkan kerap terganggu akibat ledakan roket. Kekerasan sudah menjadi berita yang tidak hangat dan menarik lagi di media-media. Orang-orang sudah bosan. Jika ada bom meledak, masyarakat berkumpul. Kemudian bertanya berapa jumlah korban. Setelah itu? Kehidupan kembali berjalan seperti biasa seakan tidak terjadi apa-apa. Kerasnya Kandahar yang bukan main bahkan terlihat dari salah satu leluconnya ini,

Pembeli: Berapa harga kepala kambing ini?

Penjual: Lima puluh afghani (mata uang Afghanistan).

Pembeli: Lima puluh? Terlalu mahal! Dua puluh saja.

Penjual: Apa? Dua puluh afghani?Kamu gila? Kamu kira ini kepala manusia?

Di propinsi-propinsi lain dan daerah di luar Kabul, Agustinus melihat keterbelakangan dan kemiskinan telah menjadi baju rakyat Afghan. Jalan-jalan yang tak beraspal dengan medan berat telah mengisolasi banyak kampung. Jalan mulus beraspal cuma ada di Kabul dan sebagian kecil daerah saja. Tidak ada sekolah. Tanah gersang, tidak dapat ditanami gandum. Tak ada yang bisa dimakan. Jika musim dingin tiba, entah berapa orang yang mati akibat kelaparan. Namun disini pula Agustinus melihat sisi kemanusiaan yang begitu luar biasa dari masyarakat Afghan. Sikap bersahabat mereka yang tulus terhadap mehman –tamu, orang asing - membuat Agustinus tidak pernah merasa lelah melangkahkan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Perlakuan mereka terhadap ‘musafir’ membuat Agustinus tidak pernah merasa berjalan sendiri. Masyarakat Afghan tidak pernah segan mengajak orang asing yang baru mereka jumpai di truk atau shamovar untuk menginap di rumah-rumah mereka. Roti yang tersisa satu potong pun rela mereka bagi meski dari pagi perut belum terisi. Perang telah memporak-porandakan kampung halaman, kemiskinan begitu pahit membelit, namun rasa kemanusiaan dan budaya memperlakukan ‘tamu’ dengan baik ini ternyata tidak pernah terkikis atau luntur sedikitpun. Ada pepatah Afghan yang dikutip Agustinus dalam bukunya mengatakan, Yak ruz didi dost, digar ruz didi baradar yang berarti “Hari pertama yang kau lihat adalah teman, hari berikutnya yang kau lihat adalah saudara

Rasa kebanggaan terhadap suku dan sifat primordial masih kuat menancap dalam masyarakat Afghan. Negri ini memang multietnik. Dari Hazara, Tajik, Uzbek, hingga yang paling dominan, Pashtun. Etnik yang satu kerap membangga-banggakan dirinya, tapi di sisi lain kerap pula memberikan stigma negatif pada etnik yang lain. Ada pula yang ogah memakai bahasa etnik lain dengan alasan yang melecehkan, “Ah itu bahasa ‘wanita’ ” Dua aliran agama mayoritas yang dipeluk, Syiah dan Sunni, juga turut mengkotak-kotakkan masyarakat Afghan. Agustinus memaklumi ini semua. Baginya, di sebuah negri yang telah lama digerogoti perang, perbedaan sekecil apapun bisa jadi perkara sensitif. Namun di balik kekacauan, penderitaan, kemiskinan, keterbelakangan yang tak berujung ini, rakyat Afghan masih punya harapan dan cita-cita yang besar untuk bangkit dari keterpurukan. Sebagian melakukan ikhtiar dengan menyebrang ke negri-negri tetangga dengan menjadi pengungsi seperti Iran dan Pakistan. Sedangkan yang punya uang lebih bermimpi untuk hidup layak di Australia, meskipun paling-paling tercegat di Indonesia. Jika kondisi sudah normal seperti sedia kala, mereka akan kembali ke negri tercinta: Afghanistan, vatan dan khaak (tanah air) mereka.

***

Agustinus menceritakan pengalaman-pengalaman yang ia temui dalam bukunya dengan detil. Gaya deksripsinya yang kuat membuat kita seolah ikut serta dalam perjalanannya, duduk dalam jeep yang sama dengan yang ia tumpangi, terombang-ambing dalam truk berisi hewan ternak bersama-sama dengannya, tidur di sampingnya dalam shamovar kumuh yang dikerubuti lalat. Debu kendaraan yang ia naiki seakan masuk ke sela mata dan ikut tertelan dalam tenggorokan. Agustinus tidak membiarkan Anda sepenuhnya berimajinasi dengan kata-kata yang ditulisnya, tapi ia juga menuntun anda dengan menyertakan beberapa hasil foto yang diabadikannya dalam beberapa lembar halaman berwarna di tengah buku. Anda masih diberi gambaran.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi Anda yang menyukai petualangan, yang tertarik dengan perbedaan budaya, bahasa, adat istiadat sebuah bangsa di bagian bumi yang lain, serta Anda yang ingin tahu lebih banyak mengenai dimensi-dimensi lain kehidupan dari ‘negri-negri mimpi’ yang jarang diekspos media mainstream.

Selamat membaca! Selamat bertualang bersama Agustinus Wibowo!



Bayu Permana Sukma

Selasa, 01 November 2011

MENGENAL DIRI SENDIRI

TIDAK MUDAH MENGENAL DIRI SENDIRI

Beberapa hari yang lalu, saat makan siang di sebuah warteg, saya bertanya pada seorang teman yang kebetulan kemarin juga makan siang bersama saya, “Wah bukannya kemarin baru aja makan siang pakai cumi ya, sekarang kok makan cumi lagi? Ga bosen?” tanya saya sambil tertawa. Ia kemudian menjawab, “Iya ni, saya juga ngga ngerti, kalo tiap makan di warung dan menunya ada cumi, pasti saya pilih cumi buat lauknya. Saya juga baru nyadar ni, kayaknya cumi emang makanan favorit saya” ujarnya sambil tertawa.

Cerita tentang seorang teman di atas bagi saya merupakan sebuah contoh sederhana mengenai betapa sulitnya terkadang mengenal dan memahami diri sendiri, bahkan untuk hal-hal sederhana, seperti makanan favorit, olahraga favorit, atau hal-hal lain. Seseorang bisa saja mengatakan ‘A’ adalah makanan atau olahraga favoritnya, namun kerapkali pula Ia akhirnya sadar bahwa ‘A’ ternyata bukanlah makanan atau olahraga yang benar-benar disukainya. Jika untuk menentukan hal-hal yang ‘mudah’ seperti itu saja kita terkadang masih mungkin keliru, maka menjadi tidak mudah bagi kita untuk mendeskripsikan diri atau karakter diri sendiri. Tidak sedikit dari kita, bahkan saya sendiri, yang masih merasa kesulitan menjawab pertanyaan: “Apa kelebihan dan kekurangan Anda?” Rasanya jauh lebih mudah untuk menilai lantas memahami orang lain daripada diri sendiri, walaupun sebenarnya pernyataan ini juga tidaklah benar.

Mengenal dan memahami diri sendiri memang bukanlah perkara mudah, terlebih untuk menggalinya jauh lebih dalam. Menemukan dan memaksimalkan potensi diri bahkan lebih sulit lagi. Kita bahkan terkadang tak dapat benar-benar mengerti motivasi-motivasi, kegelisahan-kegelisahan, mimpi-mimpi, kata hati, dan psikologi kita sendiri. Butuh waktu yang tidak sebentar untuk dapat memahami diri kita seutuhnya, bisa bertahun-tahun bahkan sepanjang hayat. Menurut Rene Suhardono, untuk menemukan passion diri sendiri saja, seseorang harus merenung setiap malam sebelum tidur, menulis atau mencatat apa saja yang telah ia lakukan, dan hal apa saja yang membuat ia senang selama satu hari tadi. Mungkin karena sulitnya memahami dan benar-benar mengenal diri sendiri inilah, profesi motivator dan career coach selalu dibutuhkan untuk menyediakan ‘cermin’ bagi diri kita.

YANG BAHAGIA, YANG MENGENAL DIRI SENDIRI DAN MENGIKUTI KATA HATI

Diri sendiri adalah kompas. Nugie menyebutnya ‘lentera jiwa’ dalam lagunya, mengacu pada nurani yang berasal dari diri sendiri. Dengan kompas atau lentera jiwa inilah kita menapaki jalan-jalan sunyi menuju kebahagiaan dalam hidup. Ia membantu menentukan arah, menunjukkan jalan kemana kita harus melangkah, serta memahami apa yang benar-benar kita inginkan untuk kita dapatkan. Oleh karena itu, sebelum menemukan kebahagiaan, seseorang harus lebih dulu menemukan diri sendiri dengan mengenalnya.

Banyak orang yang tidak bahagia dengan apa yang dikerjakannya, meskipun orang-orang di luar menilainya sukses dan pasti bahagia dinilai dari segi materi. Ia terjebak dalam opini dan definisi orang lain yang sebenarnya tidak pernah ia amini: kebahagiaan adalah materi, dan materi adalah kebahagiaan. Ia tidak bahagia dengan apa yang dilakukannya Yang berusaha ia dapatkan bukan yang sungguh-sungguh ia inginkan. Sebaliknya, ada orang yang merasa sangat bahagia dengan apa yang ia kerjakan, meskipun orang lain menilainya tidak bahagia jika dipandang dari segi materi. Namun tidak sedikit pula orang yang sukses dan bahagia secara materi, rupanya sukses dan bahagia pula batinnya. Orang-orang ini telah berhasil mengenali dirinya, dan berani mengikuti kata hatinya. Ada orang yang tahu apa yang ia inginkan, tapi tidak berani mendapatkannya. “Yang berhasil dan bahagia adalah yang mampu mengenali diri, mengikuti kata hati, dan menemukan apa yang benar-benar ia cari dalam pekerjaannya,” mengutip (dengan perubahan seperlunya) ucapan seorang teman.

BEKERJA SEBAGAI PENCARIAN DIRI

Karl Marx kurang lebih mengatakan bahwa bekerja adalah kegiatan menemukan identitas, menemukan jati diri. Hal ini dipertegas pula oleh perkataan Pak Subhan, seorang rekan, bahwa aktualisasi diri adalah hierarki tertinggi dalam kebutuhan manusia, ia melampaui materi (hasil pembelajarannya semasa kuliah di jurusan Psikologi). Saya kira dalam soal ini mereka sejalan, hanya beda istilah. Marx menyebutnya ‘menemukan identitas’, Pak Subhan menyebutnya ‘aktualisasi diri’. Pak Subhan tidak terinspirasi Karl Marx, lebih-lebih Marx tidak pernah nge-fan pada Pak Subhan. Marx mungkin tidak percaya Tuhan, sedangkan Pak Subhan relijius bukan kepalang. Tapi mereka kini berada dalam satu kereta pemikiran, bahwa bekerja adalah media penting untuk mengenal dan menemukan identitas diri. Kenali dan temukan diri sendiri, definisikan bahagia itu menurut hati nurani, lalu mulailah melangkah untuk meraihnya.

MENGENAL DIRI, MENGENAL TUHAN

Pada akhirnya, mengenal diri sendiri mengantarkan kita pada sebuah misi paling suci: menemukan Sang Maha Kasih, Sang Pemilik Kekuasaan yang tiada berbatas, yaitu Tuhan. Mengenal diri sendiri adalah anak tangga kecil untuk mengenal Sang Khalik, seperti kata pepatah: “Siapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.” Dan di penghujung tulisan ini, seraya kita melangkah menuju ruang-ruang perenungan baru tentang diri ini, saya akan mengutip kata-kata Fakhruddin al-Razi yang begitu menyentuh, yang berbunyi:

“Yang paling dekat dengan seseorang adalah dirinya. Apabila cahaya akal lemah tidak bisa menerangi hakikat dirinya, lalu bagaimana ia bisa menjangkau keagungan Tuhan yang jauhnya tiada terhingga?” -Fakhruddin al-Razi (544-606 H/1149-1209 M)-

Mari kenali diri lebih dekat lagi..


Bayu Permana Sukma