Tampilkan postingan dengan label monolog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label monolog. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juni 2010

Ketidaknyambungan sebagai Sebuah Humor


Obrolan yang awalnya mengenai pesawat kenegaraan Polandia yang jatuh dan menewaskan presiden, ibu Negara dan para petinggi lain dari Negara tersebut membuat pembicaraan sedikit demi sedikit mengarah pada status Polandia sebagai Negara yang lumayan miskin karena kekurangan dana untuk membeli pesawat baru. Tapi entah darimana asalnya, topik yang sangat serius tersebut tiba-tiba beralih menjadi pembicaraan mengenai baju balap Rossi yang bertuliskan ‘semakin di depan’, yang membuat seorang teman merasa bangga (entah kenapa). Tapi topik tersebut juga tidak berlangsung lama, ketika seorang teman membahas piala dunia 2010, dan memprediksi Argentina akan kocar-kacir pada perhelatan tersebut meski punya segudang pemain yang ber-skill di atas rata-rata kelas. Seorang teman yang duduk di ujung bangku bambu membenarkan, “iya ya, padahal mereka punya Messi, Tevez, dan Riquelme.” Saya ikut membenarkan, “iya, ada Ariel Ortega, Mario Kempes dan Daniel Pasarella. Yang lain ikut nimbrung, “Maradonna, Evita Peron.” Yang tidak kalah kurang warasnya nyeletuk “ Che Guevara..” Teman yang lain mencoba menyebrang benua, “ Lenin, Stalin, Mussolini..” Yang cinta tanah air dan semakin ngawur bilang “ Asep Sunarya, Andre Hehanusa, Utha Likumahua, Sule..” Nah, berakhirlah perbincangan paling ngawur itu di nama Sule.

Saya sangat menikmati lelucon-lelucon seperti ini, karena saya menyukai ketidaknyambungan sebagai sebuah humor. Mungkin banyak orang menilai aneh, tapi bagi orang-orang yang ingin melucu untuk dirinya sendiri, sifat asimetris humor “yang lucu bagi penutur belum tentu lucu bagi petutur” tak perlu dipatuhi.

Saya lupa lagi nulis ini tanggal berapa.

Rabu, 05 Mei 2010

nice quotation

Beberapa hari yang lalu saat pulang ke rumah, tak sengaja saya temukan skripsi Papa saya dulu di lantai atas rumah, di kamar yang memang berantakan penuh buku-buku. Dan di awal-awal halaman skripsi itu saya temukan sebuah motto dari penulisnya:

"KEMARIN ADALAH PENDERITAAN, HARI INI ADALAH PERJUANGAN, ESOK ADALAH KEMENANGAN"

Saya tersentak,"Wow,what a quotation!" You know, Papa..You are my Che Guevara, and your voice reminds me to keep struggling..

Rabu, 07 Oktober 2009

bicara tentang Papa

Saya tidak ingat bagaimana peristiwa awal kami berjumpa..tapi yang pasti itu adalah peristiwa yang penuh suka dan cinta. Kami memang tidak pernah berkenalan sebelumnya..Tapi yang saya tahu, lelaki yang dulu tinggi, kurus, dengan kumis dan jenggot itu saya panggil "Papa".
Papa adalah orang yang sangat keras, tapi saya tahu kalau dia sangat menyayangi saya..Papa adalah teman yang setia menemani saya selama 21 tahun, membawa saya bertualang dari satu pulau ke pulau lain, dari satu kota ke kota lain, dan dari satu rumah ke rumah lain. Papa membantu saya melihat banyak hal yang tidak banyak dilihat oleh anak-anak seusia saya saat itu. Papa membantu saya bertemu, belajar, dan menjalin pertemanan dengan orang-orang yang berbeda di berbagai tempat. Banyak sekali cerita yang Papa tuliskan di pikiran saya..dan saya tak akan pernah menghapusnya..
Terima kasih,Papa..
Tulisan ini untukmu..Papa juara 1 sedunia yang tak ada tandingannya.