Jumat, 18 Maret 2011

Yang Dicemaskan dari Masa Tua

Ayahmu akan berbalik badan, membelakangimu, menyeka air matanya, hingga kamu berlalu dengan orang yang sudah kamu pilih, kamu yakini dengan sungguh-sungguh, bahwa ia adalah orang yang tepat untuk mendampingi kamu menghabiskan sisa-sisa hidupmu, mengulang siklus yang dulu ayahmu, ibumu, serta kakek nenekmu lakukan, mengarungi kehidupan baru yang disebut pernikahan. Ayahmu pasti berat melepas kamu, ketika sadar bahwa anaknya akan segera melepaskan genggaman sang ayah yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak terlepas. Ia takut, tidak sanggup membayangkan hari-hari begitu sepi tanpa gelak tawamu. Tak akan ada lagi yang bisa Ia panggil untuk sekedar berbagi obrolan, hanya ibumu yang akan terus di sampingnya, menghiburnya, mengatakan, "hidup memang seperti itu, ketika anak-anak sudah beranjak dewasa, kita mesti rela melepasnya."
Ia akan teringat masa-masa mudanya, saat kamu menghiburnya ketika ia letih pulang bekerja. Ia rindu menghabiskan akhir pekan bersama kamu dan ibumu dengan pergi keluar kota. Esok sudah tak ada, kamu sudah bukan miliknya, kamu sudah lepas darinya. Air matanya akan berlinang lebih hebat ketika membayangkan kenyataan bahwa kamu akan lebih cinta pada anak-anakmu ketimbang dirinya. "Cinta orang tua adalah untuk anaknya, tapi cinta anaknya adalah untuk cucu-cucunya," begitu pikirnya sambil mengusap air mata.
Kamu akhirnya undur diri, mencium tangannya. Kamu mengecil di matanya. Lambaian tanganmu tidak lagi tampak di dalam matanya yang berkaca-kaca. Kamu sudah pergi, tapi Ayahmu tetap berdiri di belakang pintu pagar, lunglai.
Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa hidup tak pernah benar-benar memiliki. Berat baginya memahami bahwa dalam hidup selalu ada yang pergi, meski kadang tidak kembali. Ia lantas tidak mengerti, bahwa hidup memang seperti roda, berputar-putar, membawa kita dari bawah ke atas, dan dari atas kembali ke bawah. Dari tidak memiliki jadi memiliki, dari sendiri menjadi bersama, hingga kembali sendiri. Ia tidak mengerti, meski kata-kata dari buku Bukan Pasar Malam-nya Pram yang kerap Ia baca, "Hidup bukan pasar malam. Kita datang beramai-ramai, tapi pulang tidak beramai-ramai" selalu terngiang di kupingnya.
Inilah yang ia cemaskan ketika tiba masa tua, satu per satu yang ia punya pergi meninggalkannya. Ia takut sepi, Ia tidak mau sendiri..


Serang, 19 Maret 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar